Mengubah Paradigma Kampanye Peraturan Lalu Lintas

Oleh Ira Mirawati

Tribun Jabar, 8 Mei 2010

Telah lebih dari sebulan peraturan penggunaan helm berstandar nasional Indonesia (SNI) yang termuat dalam Undang-Undang No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diberlakukan. Beragam respon dikeluarkan masyarakat berkaitan dengan salah satu tata tertib bersepeda motor ini. Ada yang menyambut positif, tapi banyak pula yang bereaksi negatif.

Dari komentar-komentar yang masuk ke “Hotline” Tribun Jabar misalnya, sebagian besar mempertanyakan dengan “nada miring” kewajiban penggunaan helm SNI. Mulai dari keluhan tentang harganya yang lebih mahal dan mengapa bisa begitu, juga mengapa peraturan ini mesti diberlakukan, hingga keberatan akan sikap polisi lalu lintas yang inkonsisten dalam menindak pelanggaran.

Menariknya, bila dicermati, keluhan-keluhan dan keberatan mereka sebenarnya merupakan hasil dari kurang jelasnya informasi yang sampai pada mereka. Misalnya, kebingungan tentang jenis label SNI yang tidak hanya satu. Lebih dari itu, masyarakat juga tidak dibuat paham, apa urgensi memakai helm SNI dibandingkan helm tanpa label tersebut, meski modelnya sama, bagi mereka.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat bila mereka enggan menggunakan helm SNI, karena harus diakui bahwa sosialisasi atau kampanye peraturan ini tidak menyentuh semua khalayak yang seharusnya disasar. Belum lagi isi pesannya yang tidak informatif dan tidak dapat menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya helm SNI bagi mereka.

Sudah saatnya pihak yang berwenang menggunakan paradigma baru kampanye-kampanye peraturan lalu lintas. Kampanye hendaknya bukan sekadar dilihat sebagai ingar-bingar aksi panggung yang menampilkan artis-artis, tanpa diketahui pesannya sampai atau tidak. Bukan juga, sebatas tukar helm dititik-titik tertentu. Dan yang lebih penting, bukan sekadar razia-razia polisi lalu lintas (yang dalam benak khalayak sudah dipersepsi negatif sebagai ladang uang aparat kepolisian).

Lebih dari itu, Antar Venus dalam buku Manajemen Kampanye (2004) mengatakan bahwa kampanye merupakan upaya sistematis untuk menciptakan “tempat” tertentu dalam pikiran khalayak tentang produk, kandidat, atau gagasan yang disodorkan. Kegiatan ini harus dilihat sebagai upaya mengubah persepsi dengan cara-cara membujuk (persuasi) bukan dengan paksaan (koersi). Untuk itu kampanye berlangsung dalam berbagai tahapan, mulai dari menarik perhatian khalayak, menyiapkan mereka untuk bertindak, hingga akhirnya mengajak untuk melakukan tindakan nyata.

Salah satu model kampanye yang sesuai untuk digunakan adalah model keyakinan kesehatan (health belief model). Meski dari namanya terlihat mengkhususkan diri pada perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, namun model ini tepat digunakan untuk menumbuhkan berbagai pemikiran dalam diri khalayak melalui pesan-pesan kampanye menuju perubahan perilaku yang diinginkan. Pengguna sepeda motor, berdasarkan asumsi model ini, akan mengambil tindakan untuk mencegah, menyaring, dan mengontrol berbagai kondisi dirinya dengan berdasarkan kepada faktor-faktor berikut.

Pertama, persepsi akan kelemahan (perceived susceptibility). Pengguna sepeda motor harus dibuat percaya dan merasa bahwa sebagai pengendara atau penumpang, mereka berpeluang mengalami kecelakaan.

Kedua, persepsi resiko (perceived severity). Buat mereka percaya bahwa bila kecelakaan itu menimpa, akan membawa suatu kondisi yang sulit dan tidak menyenangkan, bahkan berisiko besar berujung pada kematian. Tunjukkan pula bahwa resiko ini semakin tinggi bagi pengendara yang tidak menggunakan helm standar.

Ketiga, persepsi akan keuntungan (perceived benefits). Buatlah pengendara sepeda motor percaya bahwa perilaku menggunakan helm SNI merupakan perilaku preventif yang dapat mengurangi kerugian atau akan membawa konsekuensi positif.

Keempat, persepsi akan rintangan (perceived barriers). Buat rintangan terlihat ringan. Yakinkan sasaran bahwa biaya yang nyata atau biaya kejiwaan yang merupakan “pengorbanan” akan membawa keuntungan yang lebih banyak. Langkah ini akan membuat para pengguna motor merasa bahwa harga helm SNI yang lebih tinggi bukanlah masalah berarti dibandingkan dengan keselamatan mereka.

Kelima, berikan isyarat-isyarat untuk bertindak (clues to action). Persepsi sasaran harus diarahkan untuk siap menghadapi dan mempunyai keinginan menggerakkan dirinya sebagai sebuah kesiapan untuk membentuk suatu perilaku. Misalnya, tunjukkan cara memilih helm SNI, dimana membelinya, serta apa yang harus mereka lakukan terhadap helm lama mereka yang kualitasnya sama dengan helm SNI. Jika perlu, sediakan saluran telepon untuk kosultasi lebih jauh.

Terakhir, kemampuan diri (self efficacy). Buat sasaran percaya bahwa mereka bisa melakukan tindakan yang diharapkan. Tunjukkan bahwa peraturan ini dibuat dengan mempertimbangkan segala kemampuan pengguna sepeda motor di Indonesia.

Enam langkah ini akan sangat membantu dalam merancang kampanye peraturan lalu lintas mulai dari tahap penyadaran hingga ke titik yang akan membuat individu bertindak sesuai pesan kampanye. Jika ini dilaksanakan, bukan tidak mungkin pengguna sepeda motor akan menjadi khalayak yang loyal. Mereka akan melakukan tindakannya atas kesadaran akan kebutuhan dirinya, bukan karena takut pada polisi lalu lintas.

Memang tidak bisa dimungkiri, melaksanakan ini semua bukan perkara mudah, apalagi ditengah ketidakpercayaan khalayak pada para pembuat dan penegak peraturan. Oleh karena itu, akan lebih baik jika ditambah dengan faktor persepsi kejujuran (perceived honesty). Khalayak harus dibuat percaya bahwa peraturan ini dibuat sebenar-benarnya demi kebaikan mereka, bukan sekadar akal-akalan demi “kebaikan” para pembuat dan penegak peraturan.

Sayangnya, untuk menciptakan persepsi kejujuran ini rasanya tidak cukup dengan kampanye. Harus ada upaya dari para pembuat dan penegak peraturan di Indonesia yang menunjukkan usaha untuk mau dan mampu melaksanakan tugas dengan sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya. Selamat mencoba!

Sompral dan Tanggung Jawab Berkomunikasi

Oleh : Ira Mirawati

Tribun Jabar, 3 desember 2009

“Ulah sompral!” kalimat itu, dalam berbagai bahasa, rasanya menjadi nasihat wajib bagi setiap jamaah yang hendak berangkat ke tanah suci Mekah. Pemberi nasihat, bila telah menunaikan ibadah haji, dipastikan melengkapi nasihat tersebut dengan kejadian buruk yang mereka atau rekannya alami akibat berkata sompral di rumah Allah.

Ada cerita tentang seorang calon haji yang tidak dapat menemukan penginapannya selama berjam-jam setelah berkata pada temannya, “Penginapan saya dekat banget dengan Ka’bah, nggak mungkin nyasar”. Ada pula kisah seorang jamaah yang kehabisan jatah makanan setelah berujar bahwa menu makanan tidak enak, kurang sesuai dengan seleranya. Dan masih banyak kisah lain yang diyakini berawal dari ucapan-ucapan meremehkan serupa.

Sompral yang dalam bahasa sunda serupa artinya dengan harung gampung atau ngomong sangeunahna (Ahmad Hadi, 2007), memang diyakini tabu dilakukan di tanah suci. Balasan langsung karena berbicara “seenak perut” ini dipercayai sebagai kuasa Tuhan menunjukkan keagungannya.

Memang, kaum muslimin mempercayai bahwa di kiblat umat Islam ini segala perkataan yang terlontar akan langsung diujikan. Tuhan ingin menjadikan rukun Islam ke-lima ini sebagai kesempatan bagi manusia untuk memurnikan ucapan-ucapanya. Maklum “lidah tak bertulang” dan manusia sering lalai mengendalikannya, hingga akhirnya menjadi “mulutmu harimaumu”.

Namun demikian, Islam mengajarkan perilaku sompral semestinya bukan hanya terlarang di sana, juga sejatinya tidak boleh dilakukan di tempat mana pun di dunia ini. Ayat-ayat dalam Alqur’an yang berkaitan dengan tata cara berkomunikasi mengajarkan untuk bertutur kata yang benar dengan sebaik-baik cara, di semua tempat dan kepada siapa pun. Tak peduli apakah itu kepada orang tua, keluarga, bawahan, hingga musuh sekalipun.

Ilmu komunikasi yang berkembang pesat di era globalisasi ini memiliki pandangan serupa tentang sompral. Sejak ribuan tahun yang lalu para tokoh komunikasi telah meyakini betapa penting tanggung jawab manusia dalam berkomunikasi. Pesan harus keluar dalam sebaik-baik tutur. Baik dari sisi isi pembicaraan maupun cara menyampaikannya.

Jalaluddin Rahmat dalam buku Psikologi Komunikasi menceritakan bahwa semua pakar komunikasi sekeyakinan tentang manusia yang tak bisa sekenanya ketika mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Dalam istilah Aristoteles, seorang komunikator harus memiliki pikiran baik (good sense), akhlak yang baik (good moral character), dan maksud yang baik (goodwill).

Bila dicermati, beberapa pakar komunikasi kontemporer juga menyebutkan bahwa seorang komunikator selain memiliki kecakapan atau kemampuan (competence or expertness) juga harus memiliki itikad baik (good intentions) dan dapat dipercaya (trustworthiness). Semua itu tidak lain karena semua rangkaian pesan yang kita keluarkan menjadi sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.

Tidak heran dan sangat beralasan ketika Cicero, pakar retorika termasyur pada Zaman Romawi, mengatakan “a good man speaks well”. Orang baik yang akan berkata baik. Good man tidak akan berbicara sompral karena pada setiap pesan yang Dia keluarkan terintegrasi tanggung jawab seutuhnya dari relung kalbu terdalam.

Sompral yang terlihat dari perilaku berbicara sembarangan, bercanda berlebihan, termasuk meremehkan sesuatu adalah hal terlarang bagi seorang komunikator. Dalam kesempatan apapun, tak sepantasnya seseorang, yang dalam hidupnya tidak bisa terlepas dari proses pemberian dan penerimaan pesan, mengeluarkan pernyataan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi yang merendahkan pihak lain.

Bukankah ketika kita menghinakan sesuatu, kita sedang memancing kehinaan untuk diri sendiri?

Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh, kasus cicak vs buaya perlambang KPK versus POLRI yang terus berkembang dan berhasil membuka aib sang buaya pun bermula dari ke-sompral-an. Kalimat “Cicak kok melawan buaya” jelas menyuratkan kepongahan. Tidak terlihat tanggung jawab di sana, karena tidak terdeksi kandungan pikiran yang baik. Selain itu bahasa nonverbal yang melengkapi kalimat itu (sorot mata, gerak bibir, dan bahasa tubuh) menunjukkan bahwa pesan itu disampaikan dengan cara/akhlak yang tidak baik dan dinyatakan bukan dengan maksud yang baik.

Belum lagi, di sana ada keangkuhan yang berasal dari pemikiran pendek bahwa makhluk yang besar dan kuat yang akan berkuasa. Tak ada kemurnian hati di sana untuk mengingat bahwa kuasa tertinggi ada di tangan Tuhan. The invisible hand yang berkuasa membolak-balik segala keadaan.

Sayangnya, setelah kasus berjalan sekian lama dan cerita sudah memasuki antiklimaks, kegemasan rakyat Indonesia menanti pertobatan pelaku sompral tak kunjung terwujud. Mungkin harus ada yang menyadarkan POLRI bahwa keterjepitan posisi mereka bukan hanya karena ujian publik, namun juga merupakan ujian atau bahkan petunjuk Tuhan untuk berubah menjadi lebih baik.

Di luar itu, bukan hanya pelontar gagasan cicak vs buaya yang harus berbenah. Sudah waktunya bangsa Indonesia bercermin dari pengalaman banyak orang di tanah suci. Mari kita menyadari semua kekhilafan yang pernah dilakukan, memohon ampun dari lubuk hati terdalam, dan kemudian memperbaikinya. Dengan cara itulah kita berharap kondisi negara ini menjadi lebih baik. Karena bila dicermati, rata-rata jamaah haji yang menceritakan pengalaman sompral menutupnya kisahnya dengan happy ending setelah pertobatan pelakunya.

IBSN: Tes Diri Mengenai Hubungan yang Banyak Menuntut

Manusia adalah makhluk sosial. Tak dapat menjadi menusia seutuhnya tanpa kehadiran orang lain. Namun, ada kalanya kita menemui orang-orang yang berhubungan dengannya membuat tenaga, atau yang paling sering, pikiran kita terkuras. hubungan seperti ini oleh Les Parrott dinamai dengan high maintenance relationship, atau hubungan yang banyak menuntut.

Berikut ini saya sajikan tes diri mengenai hubungan yang banyak menuntut, yang langsung saya kutip dari buku Les yang berjudul “High Maintenance Relationship (2000:5-7)”

Dengan menjawab semua pertanyaan di bawah ini, Anda dapat menilai apakah Anda berada dalam hubungan yang banyak menuntut atau tidak. jawablah setiap bagian dengan cermat dan jujur. Jawab dengan “Ya” atau “Tidak”

  • Apakah Anda merasa gelisah terutama bila ada orang yang menelepon dan meninggalkan pesan agar Anda membalas teleponnya?
  • Apakah Anda berhubungan dengan orang yang bila membayangkan bertemu dengannya membuat semangat anda menurun.
  • Apakah Anda memiliki hubungan dimana anda lebih banyak memberi daripada menerima?
  • Apakah anda mendapati diri anda akhirnya mengkritik tindakan anda sendiri akibat dari interaksi dengan seseorang?
  • Apakah Anda menjadi lebih sering mengkritik diri sendiri di depan seseorang ini?
  • Apakah kreativitas anda terhambat atau kejernihan pikiran anda agak terganggu oleh perasaan tidak senang yang terus-menerus anda rasakan karena harus berurusan dengan seseorang ini?
  • pernahkah anda mengalami percakapan khayalan dengan orang ini atau perbantahan dalam pikiran anda sendiri di mana anda membela diri sendiri atau mencoba menjelaskan posisi anda?
  • apakah anda merasa jengkel karena orang ini tampaknya memperlakukan orang lain lebih baik daripada anda?
  • apakah anda bertanya-tanya mengapa orang ini lebih suka mengkritik anda, tetapi jarang mengakui hal-hal yang anda kerjakan dengan baik?
  • pernahkah anda berpikir untuk keluar dari pekerjaan/organisasi/kelompok karena harus berinteraksi dengan seseorang ini?
  • apakah anda berputus asa karena orang ini terus-menerus menguras tenaga anda meskipun anda berusaha memperbaiki hubugan anda?

Nilai: Jumlahkan jawaban “Ya” Anda, jika jawaban “Ya” anda lebih banyak dari “Tidak”, maka Anda berada dalam hubungan yang banyak menuntut.

Ada beberapa tipe orang yang dapat membuat Anda berada dalam hubungan yang menguras energi yaitu :

  • pengkritik – selalu mengeluh dan memberi nasehat yang tidak diharapkan
  • martir – selalu menjadi korban dan menderita karena mengasihani diri sendiri
  • perusak kegembiraan –  pesimis dan merasa egatif dengan sendirinya
  • pengganggu –  sama sekali tidak peka terhadap orang lain
  • penggosip – menyebarkan gosip dan membocorkan rahasia
  • pengendali – tidak dapat memberi kebebasan dan berhenti mengkhawatirkan
  • musuh dalam selimut – benar-benar bermuka dua
  • si cuek – menjauh dan meghindari kontak
  • pendengki – penuh dengan kedengkian
  • gunung berapi -menghasilkan uap dan siap meledak
  • bunga karang – selalu membutuhkan, tetapi tidak pernah membalas
  • pesaing – mengingat setiap rincian
  • pekerja keras – selalu mendesak dan tidak pernah merasa puas
  • si penggoda – sindiran yang melecehkan
  • si bunglon – sangat ingin menyenangkan orang lain dan menghindari konflik

Setiap tipe memiliki cara penanganan yang berbeda. mudah-mudah-mudahan lain waktu akan saya tuliskan….

IBSN: Uji Kredibilitas dari Allah

Pernah mendengar kata kredibilitas ?

Kredibilitas adalah hal yang sangat penting bagi seorang komunikator. Ia merujuk pada bagaimana pandangan khalayak/audience/pendengar terhadap seorang pembicara. Seseorang yang ingin menjadi seorang pembicara, dalam bentuk komunikasi apapun, harus memiliki kredibilitas tinggi agar apa yang dia sampaikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

Kredibilitas bersifat subyektif, dalam artian bahwa pandangan setiap pendengar tentang seorang pembicara akan berbeda satu sama lain. Misalnya, kredibilitas saya di mata mahasiswa semester I mungkin akan lebih tinggi dibandingkan dengan kredibilitas saya di depan mahasiswa semester VII (yang sudah makan asam garam perkuliahan lebih lama).

Ada dua komponen kredibilitas, yaitu trustworthiness (kepercayaan) dan expertise (keahlian). Keahlian akan didapat melalui pendidikan, pengalaman, dll yang dapat meningkatkan keahlian kita.

Lantas, kalau kepercayaan datangnya dari mana ???

Salah satu hal yang dapat meningkatkan kepercayaan adalah ketika mengaplikasikan atau mengamalkan apa yang kita bicarakan. Atau dalam bahasa keren biasanya kita sebut “nggak omdo (omong doang)”. Orang yang hanya berbicara namun tidak pernah mengamalkan apa yang ia ucapkan biasa kita sebut juga dengan “NATO alias no action talk only”. Orang seperti ini tentu memiliki tingkat trustworthiness yang rendah.

Bila dalam meningkatkan keahlian sebagian besar faktor penentu ada pada manusia, ternyata dalam trustworthiness penentunya bukan hanya manusia. Percaya atau tidak, dalam sisi ini Allah turun tangan langsung untuk menguji trustworthiness seseorang.

Bagaimana bentuknya ???

Ternyata, bila kita mengucapkan sesuatu, Allah akan menurunkan kasus atau mungkin kesempatan bagi kita untuk mengamalkan apa yang sudah kita ucapkan (Mario Teguh dalam Acara The Golden Way di MetroTV, 11 Jan 09, menyebutnya dengan “Allah selalu ingin memurnikan ucapan hamba-hamba-Nya).

Misalnya, saya pernah menyampaikan pada mahasiswa “Coba ya Kalian Mahasiswa, kalau di Bis dahulukan orang yang lebih tua”. Dan…. tak lama berselang saya diuji oleh Allah. Pulang mengajar saya naik bis mau ke Bandung. badan lelah, mata ngantuk, perut lapar. hmmm…sepertinya enak tidur di bis. Ketika memasuki pintu tol, seorang nenek bersama cucunya naik ke bis yang saya tumpangi dan celingukan mencari tempat duduk. Saya bingung, mau memilih tetap tidur atau mempersilakan si Nenek duduk di kursi saya. Alhamdulillah saya ingat kata2 yang pernah saya ucapkan ke mahasiswa. rasanya malu hati kalau tidak mengamalkan apa yang saya ucapkan.

Contoh lainnya, Aa Gym sering berceramah tentang bagaimana sebaiknya seorang atasan menegur bawahannya. Percaya tidak, bahwa Allah sering menguji Aa Gym tentang hal tersebut??? Tapi dalam kesempatan ini saya tidak akan menguraikan panjang lebar pengamatan saya tentang bagaimana pengamalan Aa mengenai apa yang beliau sampaikan pada Jamaah.

Terakhir, Ujian Allah yang sangat nyata adalah ; kita sering mengaku bahwa kita termasuk ke dalam golongan orang-orang muslim. Coba kita pikir, jangan-jangan apa yang terjadi di Gaza adalah ujian Allah untuk mengetahui sejauh mana solidaritas kita sebagai muslim. apakah kita benar-benar termasuk ke dalam golongan kaum muslimin seperti yang selama ini kita ucapkan. Anda bisa melihatkan bagaimana reaksi berbagai negara menyikapi konflik Gaza, khususnya negara-negara yang mengaku sebagai negara Islam. Ada yang menyikapi dengan keras, ada yang mengirimkan bantuan, tapi ada pula yang tak bereaksi apapun.

Maka (seperti apa yang saya tulis dalam comment di Silmikafa’s Weblog), bersedihlah kita bila apa yang terjadi di Palestina tidak membuat kita menangis. tidak membuat hati kita teriris. dan tidak membuat kita merasa bahwa penderitaan penduduk Gaza adalah penderitaan kita. Karena jangan-jangan kita bukan termasuk ke dalam golongan kaum muslimin.

Btw, Anda pernah mengalami Ujian kepercayaan serupa???

Jiwa Enterpreneurship: Perlu

Beberapa hari yang lalu, saya posting tentang bagaimana bahagianya saya menjadi CPNS (dan saya memang benar-benar bahagia). Meski harus menunggu 4 tahun untuk meraihnya, namun saya termasuk orang yang beruntung bisa lolos tes yang selalu diminati oleh ribuan warga Indonesia ini.

Banyak warga Indonesia saat ini, bahkan yang sudah sarjana bahkan dengan IPK tinggi sekalipun yang masih kesulitan mencari pekerjaan.

Yap, itu prolog dari sharing saya kali ini yang berjudul “Jiwa Enterpreneurship: Perlu

Kesulitan mencari pekerjaan salah satunya disebabkan orang-orang hanya berfokus pada keinginan untuk menjadi pegawai, baik itu pegawai negeri maupun swasta. Padahal, jika kita cermat sebenarnya banyak peluang bagi kita untuk mendapatkan bahkan menciptakan kesempatan kerja apalagi bagi mereka yang berkecimpung di dunia komunikasi.

Demikian seperti yang diungkapkan oleh Aqua Dwipayana, seorang trainer dan konsultan komunikasi, pada acara studium generale “Enterpreneurship” tanggal 4 Desember 2008 di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Studium generale enterpreneurship ini digagas oleh Dekan Fikom Unpad, Prof. H. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D, dalam rangka memberikan perspektif yang lebih luas kepada mahasiswa Fikom dalam memasuki dunia kerja.

Di bidang jasa komunikasi banyak sekali bidang usaha atau bidang kerja yang sebenarnya bisa digarap. Mulai dari mendirikan lembaga marketing communication consultant, advertising agency, hingga menjadi konsultan (trainer) untuk komunikasi di organisasi. Dan yang membahagiakan, hampir semua bidang-bidang usaha ini dapat dimulai tanpa modal uang. Namun yang perlu diperhatikan, untuk memulainya kita harus mempunyai tekad yang kuat, tahan malu, serta skill yang mumpuni di bidang-bidang yang akan kita geluti ini.

Skill yang mumpuni ini, tentu tidak datang dengan sendirinya. mahasiswa harus mulai membekali dirinya dengan kemampuan aplikasi komunikasi sejak mereka duduk di bangku kuliah. Maka Aqua sangat menyarankan mahasiswa untuk aktif di organisasi-organisasi dan mengaplikasikan ilmu komunikasinya, bahkan mahasiswa juga sangat dianjurkan untuk magang di berbagai perusahaan. Tujuan magang ini bukan untuk mencari penghasilan, melainkan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan skill yang kelak akan mempertinggi nilai kita ketika telah lulus. Pada kesempatan itu, Aqua juga memberikan beberapa tips yang dapat memotivasi mahasiswa untuk memulai usaha.

Kuliah umum ini sangat menarik, karena disampaikan secara atraktif dan motivatif. Apalagi, contoh-contoh yang diberikan Aqua terasa sangat nyata, karena berdasarkan pengalaman pribadinya mendirikan sebuah lembaga konsultan komunikasi yang bernama Image Communication.

Berbagai Penelitian tentang Konflik Dayak Madura

Teman-teman, berikut ini saya copy-kan salah satu bagian dari BAB II tesis saya yang berjudul “Pengelolaan Kesan Etnik Dayak dan Madura Pascaperang Suku di Kalimantan Barat”. Bagian ini berjudul “Penelitian Terdahulu berkaitan dengan Konflik Antaretnik Dayak dan Madura”.

Semoga Bermanfaat

—————————————————————–

Konflik antaretnik dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok yang berbeda etnik, karena diantara mereka memiliki perbedaan dalam sikap, kepercayaan, nilai, atau kebutuhan (Liliweri, 2005:146).

Sebuah penelitian mengenai konflik antara Suku Dayak dan Suku Madura pernah dilakukan oleh Yohanes Bahari pada tahun 2005, penelitian tersebut berjudul Resolusi Konflik berbasis Pranata Adat Pamabakng dan Pati Nyawa pada Masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat. Hasil penelitian tersebut salah satunya menyebutkan bahwa konflik-konflik kekerasan yang terjadi antara Suku Dayak dan Suku Madura disebabkan oleh faktor-faktor struktural yang dilandasi oleh faktor faktor kultural; apabila faktor-faktor struktural dan kultural ini tidak diatasi dengan tuntas dan sepanjang resoluasi konflik tidak mengedepankan resolusi yang berbasis pada budaya dan kepercayaan masyarakat maka konflik kekerasan diperkirakan akan terus berulang (2005 : vi).

Yohanes juga menyebutkan bahwa konflik kekerasan antara Suku Dayak dan Suku Madura di Kalimantan Barat selama ini memang tidak terlepas dari adanya tradisi kekerasan dalam Suku Dayak, namun sebenarnya bukan tradisi ini yang menjadi penyebab utama konflik melainkan lebih sebagai akibat dari adanya pemanfaatan oleh pihak-pihak lain yang menginginkan kekerasan terjadi di Kalimantan Barat. Selain itu, oleh mereka sendiri kekerasan tidak pernah dikaitkan dengan isu-isu keagamaan (2005:312-313).

Di sisi Suku Madura, perilaku dan tindakan orang Madura yang tinggal di Kalimantan Barat, baik yang sudah lama maupun masih baru tidak banyak berbeda dengan perilaku dan tindakan mereka di tempat asalnya di pulau Madura. Orang Madura biasanya akan merespon amarah atau kekerasan berupa tindakan resistensi yang cenderung berupa kekerasan pula (Yohanes Bahari, 2002:314). Karena itu, kecenderungan kekerasan ini pulalah yang mudah dipicu untuk menimbulkan konflik dengan suku lain.

Penelitian lainnya yang peneliti angkat sebagai referensi untuk penelitian ini adalah yang dilakukan oleh Julia Magdalena Wuysang. Wuysang (2003) melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Stereotip etnik, Prasangka Sosial dan Kecenderungan Berperilaku terhadap Jarak Sosial Antaretnik Melayu dan Etnik Madura di Kota Pontianak. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam interaksi antara Etnik Melayu dan Etnik Madura, salah satu pesan yang disampaikan yakni ciri, sifat, dan atribut negatif yang dilekatkan pada suatu etnik tertentu. Perasaan negatif terhadap etnik lain ini merupakan prasangka yang akan menjadi penghambat komunikasi. Padahal, perasaan negatif tersebut sebenarnya muncul dari perbedaan persepsi karena perbedaan penafsiran pesan yang dibawa komunikator dan komunikan hingga akhirnya memperbesar jarak sosial.

Wuysang juga menemukan bahwa individu dari kedua etnik itu memiliki kecenderungan berperilaku diskriminatif dalam mereaksi pesan dari etnik lain, misalnya etnik Melayu cenderung berperilaku diskriminatif terhadap etnik Madura, atau sebaliknya. Hal tersebut dilakukan dengan kecenderungan untuk tidak menerima komunikator etnik lain dengan berbagai cara.

Dalam kesimpulannya, Wuysang meyatakan bahwa stereotip etnik, prasangka sosial dan kecenderungan berperilaku diskriminatif yang ada di antara etnik akan memperbesar jarak sosial antaretnik. Sedangkan faktor-faktor lain yang diduga mempengaruhi jarak sosial antara kedua etnik itu adalah : faktor budaya asal, orang tua, kelompok pergaulan dan guru, kepribadian individu, tingkat pendidikan, pekerjaan, perkawinan, media massa, tempat tinggal, pemukiman dan lama tinggal, serta pola-pola interaksi intraetnik dan antaretnik. Dari penelitian tersebut, Wuysang memperoleh beberapa konsep, yakni :

1.Perbedaan karakteristik etnik merupakan hal yang alami, esensinya adalah mencari dan mengembangkan persamaan di dalam hubungan antar etnik;

2. Mengenali hambatan di dalam komunikasi antarbudaya dapat mengeliminir akibat yang ditimbulkannya.

Selain penelitian yang berkaitan dengan penyebab konflik, peneliti juga melakukan kajian pustaka terhadap kondisi setelah konflik. Salah satu yang menarik dan sangat relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Agus Sikwan pada tahun 2003. Penelitian tersebut berjudul Model Program Pemberdayaan Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Hidup Pengungsi Etnik Madura Asal Sambas di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Empowerment Program Model to Increase The Welfare of Madurese Refugees from sambas In Pontianak, West Kalimantan). Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat pengungsi Etnik Madura asal Sambas yang selama ini dilaksanakan oleh pemerintah setempat (aparat birokrasi) tidak melibatkan partisipasi aktif seluruh masyarakat pengungsi secara luas dalam setiap kegiatan program pemberdayaan. Padahal, pembangunan masyarakat (dalam hal ini adalah pengungsi) adalah proses yang dirancang untuk menciptakan kondisi sosial ekonomi yang lebih maju dan sehat bagi seluruh masyarakat melalui partisipasi aktif mereka, serta berdasarkan kepercayaan yang penuh terhadap prakarsa mereka sendiri. Jadi, pemerintah membuat program tanpa meminta masukan dari pengungsi, hingga akhirnya program-program tersebut tidak relevan bagi pengungsi.

Penelitian Sikwan ini secara tersirat menunjukkan bahwa pada akhirnya pengungsi etnik Madura harus memutuskan sendiri hal-hal apa yang harus mereka lakukan baik secara sosial maupun ekonomi untuk dapat kembali kepada kehidupan yang normal. Bagi saya, hasil penelitian Sikwan ini menyiratkan bahwa dalam berkomunikasi dan menjalin kembali hubungan dengan etnik lain, khususnya Dayak dan Melayu, pengungsi Etnik Madura ternyata tidak dibimbing dan dibina oleh aparat pemerintah sebagai pelaksana program pemberdayaan. Etnik Madura bergerak atas prakarsa dan kemauan mereka sendiri, karena program-program yang dilakukan pemerintah tidak mencakup bagaimana mereka dapat kembali bersosialisasi dengan etnik lain.

Penelitian-penelitian berkaitan dengan konflik antaretnik Dayak dan Etnik Madura yang saya paparkan di atas belum ada yang menyentuh mengenai upaya pengelolaan kesan yang dilakukan kedua etnik dalam rangka menjalin kembali komunikasi di antara mereka. Oleh Karena itu, penelitian mengenai pengelolaan kesan tersebut perlu dilakukan. Selain untuk memperkaya khasanah penelitian mengenai komunikasi yang berkaitan dengan konflik antaretnik, penelitian mengenai pengelolaan kesan ini juga akan membantu lembaga-lembaga yang bertugas memperbaiki kondisi pascakonflik untuk mengambil langkah-langkah terbaik.

Why Do Students Happy When Their Lecturer Cannot Teach Them ?

There is one big question in my mind. It has been exist in my head when I studied in elementary school until now, when I have finished my master degree. As the title of this writing, the question is: “Why do student tend to happy when their teacher/lecturer cannot teach them?” I and all friends were happily laughed to hear the information about the absence of our teacher. Especially for some teacher who was boring in classroom communication.

Now, I become a teacher/lecturer. Someday I cannot teach my student because I was sick. As I lied on my bed, I think about my student. In my mind: “how poor they are. They cannot receive the materials that they should receive”. But after that, I re-think “hmm, do they sad when they cannot meet me in class, or maybe they happy because they can free from me

I didn’t find the answer of that question. It was because I didn’t try to find it. May be I was afraid that the answer will be disappoint me. As the time goes by, now that big question was in my mind again, especially when I heard a group of student chatting about their lecturer. They were sad because the lecturer cannot teach them that day. HOW COME? HOW CAN? How lucky that lecturer because the students miss her and really want to meet her in classroom!

I try to find the answer of these questions. I discussed with a group of students, here the facts I found :

  • Students will love to learn if they know the direct advantages of their meeting in classroom. so, don’t forget to tell them the advantages off their classroom meeting with you.  Make the advantages as clear as possible and concrete.
  • Students will love to learn in classroom when the methods of learning is interesting. so, we must creatively choose the right methods to teach student, or mix some methods that will make them interested. Don’t forget, the methods should make them actively involved in classroom communication. Don’t make them as object, but make them as subject of their learning activity.
  • One of success indication of  students learning is their final score. Students will love to learn if they know clearly the components and criteria of their final score. So, we must let them know how we evaluating their learning result.

I, myself, still trying to apply all the facts I found. It’s simple to write it, but quite difficult to apply. Hopefully, all teacher/lecturer have an intention to make their students learning activity become happy activity. it is not about to be favorite lecturer but it is about our responsibility as facilitator of students learning activity. Wallahu’alam.

so,….

Do my students sad or happy when I cannot teach them?

I still afraid to find the answer.