Mencontek dan Korupsi; serupa dan sewajah

Anda yang sudah membaca posting saya dengan judul senada sebelumnya, ini lanjutannya…

Menurut pemikiran saya berdasarkan observasi perilaku mencontek tersebut, ternyata mencontek dan korupsi punya banyak kemiripan, mulai dari definisi hingga cara memberantasnya.

Dilihat dari sisi definisi, ternyata mencontek dan korupsi itu sebelas dua belas, coba simak ini :

Korupsi menurut Transparancy International didefinisikan sebagai “Perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya,dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka” (www.pukatkorupsi.org)

Definisi mencontek pun tak jauh berbeda, mencontek adalah perilaku seorang murid, baik siswa maupun mahasiswa, yang secara tidak wajar dan tidak legal berusaha mempertinggi nilai ujian sendiri atau mempertinggi nilai ujian mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kepercayaan guru/dosen terhadap kemampuan mahasiswa tersebut. Definisi mencontek ini tentunya datang dari diri saya sendiri hehe, bukan dari pakar manapun. Akan tetapi, coba kita simak baik-baik. Kita harus mengakui bahwa itu benar adanya! Tul tidak???

Dalam hubungannya dengan gender :

Selama ini kita mengetahui bahwa korupsi lebih banyak dilakukan oleh lelaki. Mungkin ini sebenarya bukan hanya karena politisi lebih banyak lelaki dan minim wanita, namun juga karena korupsi membutuhkan kerjasama dengan pihak lain. Wanita berdasarkan observasi mencontek ini, agak sulit untuk bersama-sama melakukan kecurangan bersama orang lain. Wanita senang memiliki atau menyimpan sebuah rahasia, karenanya kurang bisa berbuat curang bila  ada orang lain yang tahu. Sementara korupsi tidak bisa dilakukan tanpa orang lain tidak tahu. Padahal, sebuah perilaku korupsi minimal melibatkan dua orang, misalnya orang yang menyelewengkan dana dengan orang yang memberi dana, orang yang menyelewengkan dana dengan orang kepercayaannya, orang yang diberi dana dengan toko yang me-mark up kwitansi, dsb.

Dalam hal penanganan, mencontek juga membutuhkan terapi yang serupa dengan mencontek.

Penanganan mencontek membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Dosen tidak bisa bekerja sendiri hanya berpatokan pada norma-norma sosial, melainkan membutuhkan pijakan legal atau pijakan hukum yang dapat mengokohkan tindakannya memberantas perilaku contek mencontek. Setahun terakhir, kampus kami memberlakukan sistem pengawasan ujian yang ketat didukung oleh peraturan yang mengikat. Misalnya : mahasiswa yang ketahuan mencontek dan bekerjasama dianggap tidak mengikuti UAS (namanya dicoret dari daftar peserta UAS) . Hasilnya sungguh luar biasa, sekarang pengawas menemukan adanya pengurangan signifikan perilaku mencontek. Selain itu, kampus juga membuat peraturan bagi pengawas yakni pengawas harus tegas, jika tidak akan mendapat peringatan. Dahulu, pengawas biasanya suka kasihan melihat mahasiswa, tidak tega, hingga akhirnya membiarkan mahasiswa mencontek. ternyata ini tidak baik, karena ternyata mencontek itu timbul bukan hanya karena ada niat tapi karena ada kesempatan, WASPADALAH WASPADALAH!!! hehe.

Seperti halnya mencontek, penanganan korupsi juga membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari KPK, polisi, para abdi adhiyaksa (hakim, jaksa), sampai Presiden. Kebayang kan, kalau kemaren presiden Indonesia lembek dan meminta mertuanya dibebaskan, pasti pemberantasan korupsi tidak akan maksimal.

Terakhir, kita jangan terjebak untuk memasukkan kedua perilaku salah ini sebagai suatu budaya. Yang sudah mendarah daging. Yang tidak bisa dihilangkan. DUA HAL INI BISA DIHILANGKAN DARI DALAM DIRI KITA…caranya pun sama yakni PERCAYA…

Untuk Korupsi : Percayalah bahwa kerja keras tanpa korupsi akan tetap memberikan rizki yang cukup untuk kita.

Untuk mencontek : Percayalah bahwa optimalisasi  kemampuan Anda pribadi secara optimal akan memberikan nilai terbaik bagi kita.

Yang tidak sama cuma satu, ada hari anti korupsi sedunia tapi tidak ada hari anti mencontek sedunia hehe.

Sudah dulu ya, punten kalo tulisannya masih acak-acakan, keburu sore. Pulang dulu, kangen sama anak…

15 Responses

  1. Nah lo !!! Denger tuh kata bu guru!!
    Pantes aja banyak koruptor ya teh, wong sarjananya aja di dapat dari korup jawaban…
    Salam sayang buat Khadiza, teh!
    Kalo mau liat bayi lutcuku klik aja http://silmikaffa.multiply.com
    From Gedé bagé with love (euleuh!)

    iya, sebenarnya saya mau nulis “hati-hati, buat yang TERBIASA mencontek, berarti punya potensi untuk jadi koruptor” cuman ga tega heeee. btw, saya sudah berkunjung ke multiplynya, wah…potret keluarga bahagia. salam buat Istri dan putra tercinta ya

  2. Korupsi # Mencontek.
    Koruptor adalah orang pintar dan tahu cara mencurinya. Hasilnya pasti menguntungkan diri.
    Pecontek adalah orang yang tidak memperhatikan pelajaran dan banyak tidak tahunya. Hasilnya tergantung apa yang dia lihat dan kepada siapa dia mencontek (yang Cerdas atau yang OON)
    Pecontek tidak bisa menjadi koruptor karena koruptor sedang dikejar-kejar KPK sehingga tidak ada lagi orang yang dicontek.
    Salam.

    Makasih dah berkunjung ke rumahku.
    salam untuk keluarga.

    terimakasih kembali karena sudah berkunjung, salam juga buat keluarga ya

  3. Nuhun teh, amin…

    Teh Ira, punten, please minta tanggapannya di http://silmikaffa.wordpress.com/2008/12/25/bandungku-hancur-sekali/
    please,please,please…urgent!

    Masya Allah, Mas hapunten pisan saya baru online lagi jadi belum sempat komen. dua pekan ini fakum karena anak saya sakit. maaf banget ya Mas

  4. Di antara beberapa faktor, kultur hipokrit juga menjadi faktor penting timbulnya budaya mencontek dan korupsi. Orang yang mencontek atau korupsi ingin dilihat sebagai pribadi hebat di mata orang lain tetapi dengan cara yang tidak hebat bahkan sesat. Cara ini ditutup-tutupi dari penglihatan orang lain. Faktor lainnya adalah sikap kurang atau tidak menghargai perjuangan untuk mengikuti proses. Sehingga, untuk mencapai kemuliaan yang dipikirkan hanya puncak kenyamanan atau kenikmatan dari kemuliaan itu tanpa mau berupaya setahap demi setahap. Kultur kita lebih menghargai hasil daripada proses. Sebagian orang kagum dengan kekayaan orang lain (mungkin koruptor) tanpa peduli dari mana kekayaan itu berasal atau diperoleh. Sebagian orang juga kagum dengan nilai rapor atau IPK yang tinggi tanpa peduli bagaimana ia mencapainya. Tentu saja ada perkecualian.
    Salam hangat, mbak Ira…😀

    mudah-mudahan kita menjadi sebagian orang yang tidak ikut terimbas kultur hipokrit itu ya Mas…Amin

  5. Pertama, salam kenal dari tetangga di FISIP sana😀

    Saya sih, secara umum, nggak setuju dengan mencontek. Ngga sik juga kalo saya belajar 4 jam sehari, 7 hari smeinggu, sekian artikel per bulan dan teman saya yang nngak melakukannya tinggal bilang, “eh, lo udah baca kan? jawabannya apaan nih?” *damn!*

    Tapi…. seperti halnya pemakluman atas penangguhan hukuman untuk pencurian di tempat dengan kemiskinan akut…

    Kalau saya pikir dosennya keterlaluan dan hanya ngasih materi yang bener-bener seadanya… Ya, saya kasih juga itu contekan.

    Walau itu berarti menyamakan teman-teman saya dengan orang-orang busung lapar yang hanya bisa mencuri untuk hidup.😀

    P.S: Keren nih, dosen blogger… di HI bloggernya masih kebanyakan mahasiswa!

    memang diperlukan kreativitas dosen dalam memberikan tugas dan ujian yang menutup kemungkinan mahasiswanya buat nyontek. terimakasih komennya ya Wierya. semoga dosen-dosen FISIP segera berblog ria, seperti kami di Fikom yang saling menulari satu sama lain.

  6. Ibuuu..hihihi, saya akhir2 ini mulai jarang mencontek *apalagi setelah msk tc , tp yg saya blm bs itu.. kalau ujian sy msh sering bw kebetan (itu lhoo bu catetan yg diperkecil sekecil semut) dan itu harus sy taruh di bwh kursi ,yg anehnya sampai ujian kelar pun kebetanny tdk terpakai sm sekali *pdhl udh capek2 begadang buat ngerancangnya, hehehe.. dan selama ujian brlangsung sy tenang2 saja mengerjakan (mengarang) jawaban tanpa ribet2 melongok ke bwh kursi.
    jd sepertinya bagi saya kebetan = obat pede
    he he he

    “Dayinta mahasiswa dengan potensi luar biasa, tapi belum tergerak untuk mengoptimalkan potensinya (itu bincang2 saya ama bu Nindi dan pak Akbar hehe). Mau saya kasih tau obat pede saya nggak, tapi rahasia yaa…jangan bilang sapa2. setelah soal dan lembar jawaban dibagikan, jangan langsung buru2 dibuka, dengan hati tenang baca mantra ini dulu : Bismillahirrahmannirrahiim. Ya Allah mohon berikan kelancaran pada tanganku dalam menulis, hilangkan kebekuan di otakku. lalu lanjutkan dengan membaca alfatihah.

  7. Sebenarnya tuh mbak, masalahnya cuma satu. Karena para pelaku korupsi kecil (mencontek) maupun korupsi besar (malak duit rakyat) sama-sama tidak bisa menghadirkan Tuhan dalam ruang kerja dan relung aktifitas mereka. Karena Tuhan sedang terpenjara dalam ruang-ruang ibadah dan ritual ibadah dan tak mampu memasuki interaksi mereka dengan manusia yang lain…

    Btw…makasih kunjungan baliknya mbak. Saya link ya blog nya, bu dosen🙂
    Oia, khadiza umurnya berapa ya?

    maaf ya Mbak baru di reply, waktu itu jaringannya keburu hang, maklum nebeng di kampus hehe.
    WAh saya setuju banget sama pendapat Mbak. pengawas juga manusia, bisa diakalin. tapi masa’ kita mau ngakalin Allah ya Mbak hehe.

    Khadiza april nanti 2 tahun Mbak…
    hatur nuhun mau ngelink, saya pasang juga link Mbak di Saya ya…

  8. berkunjung aja😀

    terimakasih Mas, nanti saya kunjungan balik. jangan lupa suguhannya hehe

  9. hanya ingin meninggalkan jejak…
    stop mencontek…

    makasi ya, jejaknya ga akan saya hapus2 hehe

  10. mesti percaya diri…
    kita sebagai orang tua perlu juga menekankan sikap percaya diri pada anak2, sehingga tidak ada rasa ingin mencontek yang dapat merusak bangsa ini..
    kita sebagai orang tua, juga perlu lebih hati2 lagi dalam mendidik anak, jangan sampai anak terlalu di bebani sehingga akhirnya anak mencontek karena beban dari orang tua nya…

    betulll sekali, Setuju. orang tua memang berperan penting dalam mendidik anak2nya. terimakasih sudah mampir

  11. bismillah,
    mencontek ma korupsi???

    mange punya wajah ya???
    he….
    critanya nich , aku binund mo komment apa???
    afwan

    kayaknya sih punya, punya wajah gak tau malu hehehe….

  12. Saya juga sering korupsi lho buk.., korupsi waktu. Hehehee.. Salam kenal ya..

    kalo ngenet spas jam kerja itu termasuk korupsi waktu buka yaa….hehe

  13. mencontek pake melirik kalo korupsi pake dasi he..he… maafff becanda yg syka pake dasi

    mungkin karena itu, perempuan jarang yang korupsi, karena jarang& langka yang pake dasi hehe

  14. ibu ira,
    .
    salam kenal,
    .
    bagaimana cara mengatasi/menghihlangkan kebiasan mencontek yang baik dan benar,
    .
    sebagai guru saya sering mengawasi ujian/quiz bahkan untuk soal yang mudah sekalipun para peserta didik selalu berusaha mencontek,
    .
    kenapa ya

    Salam kenal kembali Mas. perilaku mencontek dapat dihilangkan dengan menanamkan pesan moral kepada siswa bahwa mencontek adalah perilaku tidak terpuji dan haram hukumnya. namun itu saja tidak cukup, perlu ada sanksi tegas terhadap para pelakunya. misalnya kalau di Fikom Unpad : mahasiswa yang ketahuan mencontek akan dikeluarkan dari ruang ujian dan dianggap tidak mengikuti ujian. kalau di SMA saya dulu lebih tegas lagi, siswa yang ketahuan mencontek akan dipanggil orang tuanya, dan kalau diulangi lagi akan dikeluarkan dari sekolah. aturan memerlukan kerjasama dari semua komponen pendidikan, bukan hanya oleh seorang guru namun semua guru harus berlaku sama terhadap siswanya.

    mengatasi perilaku mencontek memang butuh usaha dan keberanian, kreativitas serta kekuatan hati yang luar biasa.usaha dan keberanian diperlukan karena guru yang galak/tegas terhadap perilaku mencontek pasti tidak populer (kurang disukai) siswa. kreativitas diperlukan misalnya untuk dapat membuat soal yang jawabannya tidak mungkin ada di contekan. kekuatan hati diperlukan karena kita biasanya tidak tega untuk menghukum siswa yang mencontek. padahal rasa kasihan kita pada siswa tersebut yang justru akan menjerumuskan siswa pada perilaku tidak terpuji tsb.

    semoga bermanfaat ya Mas….

  15. belum apdet mbak?

    hehe, belum Mas…baru kenalan sama FB. jadi lebih konsen ngotak-ngatik FB hehehe. secepatnya akan kembali lagi mengurusi Blog. makasi Ya Mas udah ngingetin ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: