Koalisi Besar dan Spiral Kebisuan

Oleh : Ira Mirawati

Tribun Jabar, 23 Juli 2009

Kemenangan mutlak Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono pada Pemilihan Presiden 2009 membuat banyak pihak optimis perputaran roda pemerintahan akan mulus lancar tanpa batu penghalang. Apalagi kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagian besar diduduki oleh pendukung pasangan terpilih. Belum lagi, partai-partai yang tadinya bertarung melawan ternyata tidak begitu tegar. Mereka ikut terombang-ambing dalam konsolidasi elit politik. Sebagian bahkan tidak cukup kuat melawan hasrat untuk melibatkan diri dalam “bagi-bagi” kekuasaan dan sumber daya. Mereka ingin meleburkan diri dalam koalisi besar pemerintahan.

Koalisi besar tak bisa disangkal memang diperlukan untuk menciptakan pemerintahan presidensial yang kuat. Namun mengarahnya semua orang ke dalam satu golongan sebenarnya perlu diwaspadai. Kelompok orang yang bersuara sama akan terhimpun menjadi mayoritas. Di mana ada mayoritas di situ ada minoritas yang berpotensi terpinggirkan. Kondisi ini dapat melahirkan spiral kebisuan.

Spiral kebisuan (spiral of silence) dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Neumann pada tahun 1970-an.  Istilah dalam ilmu komunikasi ini menggambarkan sebuah keadaan di mana mayoritas menjadi sebuah tirani dan individu-individu yang merasa berbeda kehilangan keberanian untuk mengartikulasikan gagasannya. Sebaliknya, para mayoritas akan menaksir terlalu tinggi pengaruh mereka dan menjadi sangat berani mengemukakan pendapat.

Para minoritas yang duduk di Kursi Dewan – yakni mereka yang bukan dari koalisi pendukung presiden terpilih- mungkin akan kehilangan keberanian. Perlu dicatat, hilangnya keberanian itu tidak harus berkait dengan tekanan dalam arti fisik maupun politis, tapi lebih berhubungan  dengan mekanisme psikologis. Mereka secara perlahan-lahan merepresi pendapatnya sendiri dan menyesuaikannya dengan pendapat umum (public opinion).

Prosesnya bermula ketika dalam diri individu yang tak berteman ini merasuk perasaan takut diisolasi. Suatu hal yang secara manusiawi –dalam kadar yang berbeda–sebenarnya dimiliki setiap orang. Untuk mengatasinya, setiap waktu individu akan mencoba mengukur iklim dari opini yang berkembang. Bila merujuk pada asumsi Neumann, pilihan seseorang untuk mengemukakan atau memendam suara hatinya selain bergantung pada bagaimana perkembangan opini menurut observasi pribadi juga sangat dipengaruhi oleh pandangan media massa. Orang menyandarkan diri pada media massa untuk memastikan dan menginterpretasi hasil observasi mereka.

Sudut pandang media tentang opini tersebut akan digunakan untuk mengambil keputusan, apakah mengemukakan pandangan mereka atau memendamnya saja di dasar terdalam spiral yang buntu. Sayangnya, sering terjadi media menggambarkan suatu hal sesuai dengan opini terbanyak. Media tak kuasa, dan  meng”iya”kan mayoritas.

Kalau sudah begini, rasanya tidak salah untuk takut pada spiral kebisuan. Dengan mengesampingkan kemungkinan adanya niat tidak tulus anggota dewan dalam mewakili rakyat, jelas kepentingan rakyat sebagai amanah mulia berpotensi dikorbankan. Karena itu, harus ada pihak-pihak yang mengontrol agar “menutup mulut” tidak menjadi pilihan para minoritas.

Pihak pertama yang bisa diandalkan untuk mengontrol spiral kebisuan adalah oposisi. Eksistensi mereka yang identik dengan “pengawasan melekat” terhadap pemerintah, akan mengangkat “suara lain” yang tidak sama. Komitmen menjadi oposan mendorong mereka untuk selalu memiliki pandangan yang berbeda, yang pada akhirnya tidak membuat presiden sebagai orang  super power.

Tentu kita berharap, dengan perolehan suara sekitar 28 persen (hasil penghitungan sementara), Megawati dan Prabowo yang sudah menguatkan tekad untuk menjadi oposisi dapat memperdengarkan nada lain selain nada pemerintah. Meski di Indonesia belum ada acuan yang jelas tentang posisi oposisi, semoga para oposan teguh pada komitmen bersebrangan dengan pemerintah. Walaupun mungkin mereka menjadi tidak popular dan kehilangan “jatah” yang bisa diraih bila merapat pada mayoritas.

Pihak lain yang sangat diharapkan adalah media massa. Kuasanya mempengaruhi khalayak dapat diandalkan untuk mendorong minoritas berani bersuara. Karena itu, media massa diharapkan dapat berbicara tidak dalam satu suara. Selama ini, pers dipandang cenderung berbicara homogen. Bila pemerintah sangat kuat, biasanya suara mereka justru sama dengan suara penguasa.

Media Massa sebagai The Fourth State harus sanggup menjalankan fungsinya sebagai agenda setter, tetapi agenda itu bukan diberikan
kepada pers oleh institusi lain yang jauh lebih dominan. Suara media harus dapat menyokong kelompok kecil anggota dewan yang merasa berbeda mendapatkan kepercayaan dirinya dan muncul dalam debat publik, bukannya melebur dan menenggelamkan diri dalam lembah lingkaran kebisuan. Namun perlu diingat, rakyat Indonesia bukanlah kanvas putih yang selalu menerima begitu saja apapun yang dilukiskan padanya. Media harus bercermin pada pengalaman terdahulu. Bagaimana pemberitaan (kritik) mereka terhadap SBY yang diprediksi dapat menurunkan popularitasnya, justru tidak terjadi.

Pada akhirnya, pihak yang paling menentukan tumbuh atau tidaknya benih-benih kebisuan ini adalah penguasa itu sendiri. Bukan tanpa alasan dan pertimbangan rakyat Indonesia mencontreng pemimpinnya. Harapan besar akan nasib bangsa telah mereka pikulkan pada SBY sebagai presiden terpilih. Semoga dapat dijawab dengan kerja nyata menuju Indonesia yang lebih baik, termasuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih demokratis. Yang mau mendengar aspirasi semua golongan rakyatnya.

3 Responses

  1. Salam Takzim
    Menulis kadang salah
    Singgah kadang tak teratur
    Inginnya melepas salah
    dengan Jarak coba ku Atur

    Minal A’idin Wal Faidzin, mohon maap lahir dan batin

    terimakasih…sama-sama, mohon maaf lahir batin ya Mas….

  2. ibu…ini blog kami dari kombis b 2007……apa yang kurang ya ?

  3. ibu ini blog kami….dari event billiard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: