cerita I: Balik Kampung

Juni 2007
Sekeloa sungguh indah sore ini. Matahari emas. Awan ada, tapi hanya berkerumun sedikit-sedikit. Tak berani mendekati sang surya yang menawan.
Angin semilir membuat pohon delima di seberang gang bergoyang-goyang kecil. Buah-buahnya terlihat ranum, menyembul di antara daun-daunnya yang kecil-kecil dan jarang. Perempuan yang sedang mengandung banyak tergiur melihat warnanya yang rata-rata yang sudah kuning kemerahan.
Entah berapa kali Long melihat suami-suami muda ber-punten-punten, sesantun mungkin biar dikasi delima oleh tetangga depan. Pasti istrinya dengan segala kemanjaan, rengekan, atau bentakan, menyuruh sang suami meminta delima pada si empunya. Para lelaki tak kuasa menolak jika istri menohoknya dengan kalimat kojo “Ini maunya si jabang bayi. Kalau nggak diturut, nanti anak kita ngacai.” Padahal kalau sudah ditangan, hasil jerih payah suaminya bertebal-tebal muka meminta itu paling-paling hanya di rasa seujung kuku. Lucunya, meski sudah makan delima itu, tetap saja anaknya yang lahir itu berliur-liur.
Gang Sukasari ini sering jadi tempat ibu-ibu muda itu berkumpul. Mengasuh sambil bergosip. Menyuapi anak sambil kesana kemari membicarakan orang lain.
Gang depan rumahku memang tak pernah sepi. Ketak ketuk langkah selalu setia menghiasinya. Ada seretan sandal jepit. Sepatu tinggi perempuan. Kadang denyit karet sepatu kets. Beberapa langkah itu terdengar cepat, menunjukkan pemiliknya yang tergesa-gesa. Mungkin takut terlambat datang ke suatu janji. Tapi tak jarang pula seretan-seretan dampal alas kaki yang lewat terdengar santai. Barangkali si empunya tak terikat waktu mendesak.
Kalau Long perhatikan, langkah yang lewat ternyata lebih banyak jenis yang ke-dua dia sebut. Entah karena mayoritas orang-orang itu memang tidak sedang diburu waktu, atau menganggap enteng saja waktu yang terus berlalu.
Masalah waktu memang menjadi stereotype tersendiri yang menempel pada orang Indonesia. Bangsa ini dinilai tak menghargai masa. Lihat saja cara kita menyebut waktu, waktu berjalan. Berbeda dengan orang barat, time is running.
Prejudise!
Entahlah, Long pikir tak semua orang Indonesia seperti itu!
Kalau pagi, pemilik langkah itu mahasiswa yang akan kuliah di universitas-universitas yang dekat dengan Sekeloa ini. Kalau sore, seperti sekarang, mereka balik ke kosan. Tapi biasanya, tak lama kemudian, dekat-dekat adzan magrib berkumandang, sebagian keluar lagi untuk jalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan yang banyak terdapat di kota Paris Van Java. Apalagi hari sabtu begini, anak-anak muda suka sekali membanjiri berbagai pusat perbelanjaan. Meski tak ada juga yang dibelanjakannya. Paling-paling, sekarang ini yang sedang digandrungi anak muda, nongkrong di warung-warung kopi bermerek. Sebagian memang suka kopi, tapi sebagian lagi hanya demi terlihat gaya. Padahal yang dibeli yang paling murah. Kalau bisa beli setengah, mungkin segitu yang dipesannya.
Hmm, itu prasangka Long.
Prejudise!
Tapi kegiatan mereka itu mungkin lebih baik daripada sekadar termenung di kosan, menatap layar kaca yang melulu berisi infotainment dan sinetron cengeng, atau memandangi Sekeloa yang semakin lama semakin padat.
Sekeloa — nama yang terkenal di kalangan mahasiswa Bandung–, adalah sebuah kelurahan yang terletak di pusat kota. Letaknya yang dekat dengan dua universitas negeri kenamaan membuat penghuninya padat. Mayoritas tentu mahasiswa, yang datang dari berbagai penjuru negeri untuk menuntut ilmu. Penduduk aslinya sebenarnya cuma sedikit.
Maka jangan heran kalau libur panjang sekeloa terasa sungguh sunyi. Apalagi kalau libur lebaran datang. Budaya balik kampung membuat Sekeloa terasa benar-benar lengang. Gang-gang sempit yang biasanya tak sepi oleh pejalan kaki jadi kosong melompong. Paling satu dua orang lewat di situ dalam satu jam.
Lebih nelangsa lagi karena warung-warung nasi kebanyakan tutup. “Kantin Aa” misalnya, dipastikan tidak beroperasi selama seminggu. Pemilik dan pekerja warung nasi “swalayan” murah meriah, yang masih satu keluarga itu, mudik ke Tegal. Begitu juga warung nasi “Tegal Bahari” yang di hari biasa berperasi selama 24 jam nonstop, pun pemiliknya balik kampung. Sama halnya dengan warung-warung tenda yang beroperasi di dekat persimpangan ke arah Fakultas Kedokteran Gigi Unpad. Semuanya tutup tup!
Paling-paling yang buka hanya warung nasi milik Ibu Endut di Sekeloa Timur. Yang sambal hejo-nya selalu membuat ketagihan.
Long sendiri sudah dua tahun mengontrak rumah di sini. Sejak mengambil Program Magister di Program Pascasarjana Unpad. Akang, suaminya , sebenarnya lima bulan lalu sudah mencicil sebuah rumah di Cibiru. Jauh memang dari pusat kota, kurang lebih dua puluh kilometer. Tapi dengan kondisi dompet yang masih kembang kempis, kering kerontang, itulah rumah terbaik yang bisa mereka beli. Sayangnya kuliah Long yang menuntut untuk sering bolak-balik ke kampus, membuat pasangan yang baru menikah setahun lebih itu memutuskan menunda menempati rumah. “Berat di ongkos” kalau kuliah di-dugdag –pulang pergi– dari sana.
Keinginan untuk cepat menempati Istana mungil itu turut menjadi alasan mengapa Long ingin segera menyelesaikan S2nya.
Tinggal selangkah lagi.
Tesis.
Dan sesuatu yang bernama tesis bukanlah pekerjaan yang enteng, meski tidak juga terlalu berat. Penyusunannya memerlukan langkah panjang, keberanian, keuletan, dan kekuatan meniti anak tangga prosedur yang tak bisa dipandang sebelah mata. Itu kalau mahasiswa yang mau dapat gelar master itu memang sungguh-sungguh mengerjakan dengan pemikiran dan tenaga sendiri.
Banyak yang bisa menyelesaikan tesis dalam waktu singkat, tapi tidak sedikit pula yang susah lulus gara-gara “makhluk” ini. Bahkan ada pula yang harus di-drop out karena penelitiannya tak kelar-kelar.
Dan di sinilah Long, di sekeloa yang sore ini terasa saat indah, sedang mempersiapkan satu tahapan penting dalam merampungkan tesisnya.
Bersiap berangkat untuk mengumpulkan data di lokasi penelitian.
***
Long mengemasi barang-barangnya. Semuanya ada dua koper besar, satu tas bincing besar, dan dua kotak yang juga besar. Ups, tak ketinggalan satu ransel yang tak kalah besar. Banyak nian bawaannya. Besar-besar dan berat pula. Mau tak mau harus begitu. Maklum, Long tak sendiri pergi ke lokasi penelitian ini. Selain dikawani Akang, mau tidak mau Long pun harus membawa Long Diza, bayinya.
Sebenarnya, rencananya penelitian ini akan Long kerjakan tiga bulan lalu, tapi tertunda karena kelahiran putri pertamanya itu. Izin dokter Alex, spesialis Anak di RSIA Tedja tempat Long melahirkan, untuk membawa anaknya bepergian jauh, baru dia dapatkan setelah Long Diza berusia tiga bulan. Katanya terlalu riskan bagi seorang bayi yang baru lahir untuk dibawa bepergian dengan pesawat. Tekanan udara yang berubah drastis dapat merusak gendang telinganya yang masih tipis. Sebagai ibu muda, Long tak terlalu paham perihal ini. Tapi dia turuti semua nasihat dokter yang sudah beruban itu, demi kebaikan Long Diza.
Terakhir kali kontrol, banyak sekali nasihat berharga yang dia sampaikan padanya agar Long Diza nyaman di perjalanan. Ditulisnya nasehat-nasehat itu di selembar kertas note book (yang bergambarkan logo sebuah perusahaan farmasi kenamaan). Waktu Long perbandingkan, petuahnya di kertas note book itu ternyata jauh lebih panjang dari pada isi “surat izin bepergian dengan pesawat” untuk Long Diza yang ditulisnya di atas kertas kop rumah sakit.
Selain menanti izin dokter Alex, penundaan penelitian ini juga karena Long menunggu Akang cuti. Cukup lama waktu yang ia perlukan untuk melobi atasannya agar permohonan cutinya dikabulkan. Yah, agak sulit untuk mengajukan izin cuti dalam jangka waktu yang lama di sebuah bank swasta. Itu pun cuma dapat ijin dua minggu saja, sesuai batas maksimum cuti yang bisa diambil dalam setahun. Padahal sudah merayu-rayu dia pada bosnya. Syahdu seperti Rayuan Pulau Kelapa. Berharap-harap aturan bisa sedikit dilonggarkan. Tapi ternyata tak berhasil. Membal saja bujuk rayunya itu.
Walhasil, setelah dua minggu Long akan ditinggalkannya di sana untuk merampungkan pengumpulan data.
Perlu masa yang tidak singkat memang untuk penelitiannya ini. Metode kualitatif yang dia pilih memintanya untuk mendapatkan data dengan wawancara mendalam dan observasi di lapangan. Data-data yang dia butuhkan tidak dapat ter-cover dengan menyebar angket atau kuesioner seperti pada penelitian kuantitatif. Terlebih lagi, tempat penelitian untuk tesisnya ini memang lumayan jauh, tepatnya di Kecamatan Monterado Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat .
Sebenarnya untuk ukuran Kalimantan, tempat ini bukan termasuk daerah pedalaman yang terisolir. Tapi tak bisa dibilang dekat juga dari ibukota propinsi. Banyak kawan-kawannya sama-sama sepropinsi, orang pontianak atau dari kabupaten lain, tak tahu kalau di Kalimantan Barat ada sebuah tempat yang bernama Monterado. Padahal bukan main senangnya Long menyabut nama kecamatan ini. Keren. Seperti nama-nama tempat di benua Amerika kan? San Fransisco, Mexico, Colorado. Bisa bersanding dengan Monterado, kan?
Sangking tak terkenalnya, malah ada kawannya yang bilang “Adakah di peta Kalbar tempat yang namanya Monterado? Ndak pernah lihat aku, hahaha!” Dan, tawa kawannya itu disambut meriah oleh kawan-kawan lain yang mendengarnya. Semakin riuh rendah gelak mereka melihat muka Long yang belipat-lipat. Bekerut-kerut masam.
Tak serius mereka tentang peta itu. Hanya saja, bahwa mereka tak tahu Monterado, memang begitulah adanya.
Fakta.
Tapi jangan membayangkan betapa Long, suami, dan anaknya akan nelangsa, celingak-celinguk sendiri di sana mencari tempat tinggal sementara, untuk mengumpulkan data-data penelitian. Tempat itu, yang namanya Monterado itu, sungguh tidak asing baginya.
Meski dalam tubuh kurusnya mengalir darah Sunda tulen, tapi di tanah sebelah barat Pulau Borneo itu Long dilahirkan dan dibesarkan.
***

to be continued…

Berbagai Penelitian tentang Konflik Dayak Madura

Teman-teman, berikut ini saya copy-kan salah satu bagian dari BAB II tesis saya yang berjudul “Pengelolaan Kesan Etnik Dayak dan Madura Pascaperang Suku di Kalimantan Barat”. Bagian ini berjudul “Penelitian Terdahulu berkaitan dengan Konflik Antaretnik Dayak dan Madura”.

Semoga Bermanfaat

—————————————————————–

Konflik antaretnik dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok yang berbeda etnik, karena diantara mereka memiliki perbedaan dalam sikap, kepercayaan, nilai, atau kebutuhan (Liliweri, 2005:146).

Sebuah penelitian mengenai konflik antara Suku Dayak dan Suku Madura pernah dilakukan oleh Yohanes Bahari pada tahun 2005, penelitian tersebut berjudul Resolusi Konflik berbasis Pranata Adat Pamabakng dan Pati Nyawa pada Masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat. Hasil penelitian tersebut salah satunya menyebutkan bahwa konflik-konflik kekerasan yang terjadi antara Suku Dayak dan Suku Madura disebabkan oleh faktor-faktor struktural yang dilandasi oleh faktor faktor kultural; apabila faktor-faktor struktural dan kultural ini tidak diatasi dengan tuntas dan sepanjang resoluasi konflik tidak mengedepankan resolusi yang berbasis pada budaya dan kepercayaan masyarakat maka konflik kekerasan diperkirakan akan terus berulang (2005 : vi).

Yohanes juga menyebutkan bahwa konflik kekerasan antara Suku Dayak dan Suku Madura di Kalimantan Barat selama ini memang tidak terlepas dari adanya tradisi kekerasan dalam Suku Dayak, namun sebenarnya bukan tradisi ini yang menjadi penyebab utama konflik melainkan lebih sebagai akibat dari adanya pemanfaatan oleh pihak-pihak lain yang menginginkan kekerasan terjadi di Kalimantan Barat. Selain itu, oleh mereka sendiri kekerasan tidak pernah dikaitkan dengan isu-isu keagamaan (2005:312-313).

Di sisi Suku Madura, perilaku dan tindakan orang Madura yang tinggal di Kalimantan Barat, baik yang sudah lama maupun masih baru tidak banyak berbeda dengan perilaku dan tindakan mereka di tempat asalnya di pulau Madura. Orang Madura biasanya akan merespon amarah atau kekerasan berupa tindakan resistensi yang cenderung berupa kekerasan pula (Yohanes Bahari, 2002:314). Karena itu, kecenderungan kekerasan ini pulalah yang mudah dipicu untuk menimbulkan konflik dengan suku lain.

Penelitian lainnya yang peneliti angkat sebagai referensi untuk penelitian ini adalah yang dilakukan oleh Julia Magdalena Wuysang. Wuysang (2003) melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Stereotip etnik, Prasangka Sosial dan Kecenderungan Berperilaku terhadap Jarak Sosial Antaretnik Melayu dan Etnik Madura di Kota Pontianak. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam interaksi antara Etnik Melayu dan Etnik Madura, salah satu pesan yang disampaikan yakni ciri, sifat, dan atribut negatif yang dilekatkan pada suatu etnik tertentu. Perasaan negatif terhadap etnik lain ini merupakan prasangka yang akan menjadi penghambat komunikasi. Padahal, perasaan negatif tersebut sebenarnya muncul dari perbedaan persepsi karena perbedaan penafsiran pesan yang dibawa komunikator dan komunikan hingga akhirnya memperbesar jarak sosial.

Wuysang juga menemukan bahwa individu dari kedua etnik itu memiliki kecenderungan berperilaku diskriminatif dalam mereaksi pesan dari etnik lain, misalnya etnik Melayu cenderung berperilaku diskriminatif terhadap etnik Madura, atau sebaliknya. Hal tersebut dilakukan dengan kecenderungan untuk tidak menerima komunikator etnik lain dengan berbagai cara.

Dalam kesimpulannya, Wuysang meyatakan bahwa stereotip etnik, prasangka sosial dan kecenderungan berperilaku diskriminatif yang ada di antara etnik akan memperbesar jarak sosial antaretnik. Sedangkan faktor-faktor lain yang diduga mempengaruhi jarak sosial antara kedua etnik itu adalah : faktor budaya asal, orang tua, kelompok pergaulan dan guru, kepribadian individu, tingkat pendidikan, pekerjaan, perkawinan, media massa, tempat tinggal, pemukiman dan lama tinggal, serta pola-pola interaksi intraetnik dan antaretnik. Dari penelitian tersebut, Wuysang memperoleh beberapa konsep, yakni :

1.Perbedaan karakteristik etnik merupakan hal yang alami, esensinya adalah mencari dan mengembangkan persamaan di dalam hubungan antar etnik;

2. Mengenali hambatan di dalam komunikasi antarbudaya dapat mengeliminir akibat yang ditimbulkannya.

Selain penelitian yang berkaitan dengan penyebab konflik, peneliti juga melakukan kajian pustaka terhadap kondisi setelah konflik. Salah satu yang menarik dan sangat relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Agus Sikwan pada tahun 2003. Penelitian tersebut berjudul Model Program Pemberdayaan Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Hidup Pengungsi Etnik Madura Asal Sambas di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Empowerment Program Model to Increase The Welfare of Madurese Refugees from sambas In Pontianak, West Kalimantan). Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat pengungsi Etnik Madura asal Sambas yang selama ini dilaksanakan oleh pemerintah setempat (aparat birokrasi) tidak melibatkan partisipasi aktif seluruh masyarakat pengungsi secara luas dalam setiap kegiatan program pemberdayaan. Padahal, pembangunan masyarakat (dalam hal ini adalah pengungsi) adalah proses yang dirancang untuk menciptakan kondisi sosial ekonomi yang lebih maju dan sehat bagi seluruh masyarakat melalui partisipasi aktif mereka, serta berdasarkan kepercayaan yang penuh terhadap prakarsa mereka sendiri. Jadi, pemerintah membuat program tanpa meminta masukan dari pengungsi, hingga akhirnya program-program tersebut tidak relevan bagi pengungsi.

Penelitian Sikwan ini secara tersirat menunjukkan bahwa pada akhirnya pengungsi etnik Madura harus memutuskan sendiri hal-hal apa yang harus mereka lakukan baik secara sosial maupun ekonomi untuk dapat kembali kepada kehidupan yang normal. Bagi saya, hasil penelitian Sikwan ini menyiratkan bahwa dalam berkomunikasi dan menjalin kembali hubungan dengan etnik lain, khususnya Dayak dan Melayu, pengungsi Etnik Madura ternyata tidak dibimbing dan dibina oleh aparat pemerintah sebagai pelaksana program pemberdayaan. Etnik Madura bergerak atas prakarsa dan kemauan mereka sendiri, karena program-program yang dilakukan pemerintah tidak mencakup bagaimana mereka dapat kembali bersosialisasi dengan etnik lain.

Penelitian-penelitian berkaitan dengan konflik antaretnik Dayak dan Etnik Madura yang saya paparkan di atas belum ada yang menyentuh mengenai upaya pengelolaan kesan yang dilakukan kedua etnik dalam rangka menjalin kembali komunikasi di antara mereka. Oleh Karena itu, penelitian mengenai pengelolaan kesan tersebut perlu dilakukan. Selain untuk memperkaya khasanah penelitian mengenai komunikasi yang berkaitan dengan konflik antaretnik, penelitian mengenai pengelolaan kesan ini juga akan membantu lembaga-lembaga yang bertugas memperbaiki kondisi pascakonflik untuk mengambil langkah-langkah terbaik.

Peran-Peran dalam Komunikasi Antaretnik Dayak dan Madura

Pascaperang Suku 1996 – 2000 di Kecamatan Monterado Kabupaten Bengkayang Propinsi Kalimantan Barat

The roles in intercultural communication between Dayak and Madurese
after tribal dash1996 – 2000 in Kecamatan Monterado Kabupaten Bengkayang Propinsi Kalimantan



Keetnikan merupakan salah satu ciri kehidupan sosial manusia yang universal, dalam artian bahwa semua anggota etnik mempunyai cara berpikir dan pola perilaku tersendiri sesuai dengan etniknya masing-masing. Satu etnik dengan etnik lainnya akan berbeda, dan tidak dapat dipaksakan untuk menjadi sama seutuhnya. Perbedaan tersebut justru sebenarnya sebuah kekayaan, keberagaman yang dapat membuat hidup manusia menjadi dinamis serta tidak membosankan.

Banyaknya konflik antaretnik di Indonesia mengindikasikan gejala bahwa budaya yang berbeda pada masing-masing etnik, khususnya dalam konteks komunikasi antaretnik, cenderung menjadi hambatan dan penyebab gagalnya komunikasi antaretnik, seperti stereotip, saling curiga, dan saling tidak percaya. Konflik antaretnik tersebut tidak terlepas dari suatu bentuk kesalahan pelaksanaan komunikasi yang dilakukan antaretnik.

Salah satu konflik yang menelan begitu banyak korban jiwa manusia dan menjadi konflik berkepanjangan adalah Perang Suku yang terjadi di Kabupaten Bengkayang Propinsi Kalimantan Barat. Penulis menggunakan kata “Perang Suku” merujuk pada nama yang diberikan masyarakat kepada konflik antaretnik tersebut, yakni “Perang Suku”.

Konflik antaretnik di Kalimantan Barat, yakni Dayak versus Madura “episode paling akhir” bermula sejak tahun 1996. Konflik mencapai puncaknya pada tahun 1999 dan 2000 dengan korban jiwa terbunuh sangat kejam; harta benda dan hak milik musnah dibakar, dijarah, atau dirusak; dan ratusan ribu jiwa dari etnik Madura masih terlunta sebagai pengungsi di berbagai tempat (Singkawang, Pontianak, Surabaya, dan Pulau Madura).

Selama perang suku terjadi, komunikasi antara Etnik Dayak dan Etnik Madura terputus sama sekali, atau bahkan dapat dikatakan “tidak ada komunikasi”. Tidak adanya komunikasi ini terjadi karena Etnik Dayak dan Etnik Madura “tidak bisa bertemu”. Jika terjadi pertemuan, maka yang kemudian terjadi adalah saling bunuh di antara keduanya.

Tidak terjalinnya komunikasi antaretnik Dayak dan Etnik Madura ini berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang yakni sepanjang Perang Suku (1996-2000). Namun, saat ini konflik antaretnik Dayak dan Etnik Madura sudah reda. Penyerangan-penyerangan massal antaretnik yang bertikai tersebut sudah tidak terjadi dan suasana berangsur-angsur kembali damai, meski di beberapa daerah, Etnik Madura masih benar-benar ditolak kedatangannya. Beberapa orang Madura yang mencoba pulang kampung untuk menengok bekas rumah atau kebunnya, ternyata tidak pernah kembali (dengan kata lain : dibunuh).

Tidak semua daerah yang telah diduduki Etnik Dayak “menolak mentah-mentah” kehadiran Etnik Madura. Di lokasi-lokasi tertentu, khususnya di Kabupaten Bengkayang, Etnik Dayak yang sudah “mengizinkan” orang dari Etnik Madura untuk masuk ke daerahnya. “Mengizinkan” disini bukan berarti dalam bentuk tertulis, namun mereka sudah boleh masuk ke wilayah Etnik Dayak dan tidak dianiaya atau dibunuh oleh Enik Dayak.

Salah satu wilayah di Kabupaten Bengkayang yang sudah boleh dimasuki oleh Etnik Madura adalah Kecamatan Monterado. Dahulu tempat ini termasuk ke dalam Kecamatan Samalantan Kabupaten Sambas. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah di mana Perang Suku paling banyak menelan korban jiwa. Tidak ada catatan resmi tentang jumlah pasti korban jiwa, namun menurut keterangan Briptu Musadad[2], sekitar 200 rumah dibakar hingga tak bersisa dan korban jiwa mencapai ratusan orang. Suku Madura yang tersisa hampir seluruhnya mengungsi ke Singkawang. Mereka tinggal di Desa Munggu Pancung Kecamatan Roban Kotamadya Singkawang.

Jarak antara tempat pengungsian Etnik Madura di Kecamatan Roban dengan Kecamatan Monterado, yang saat ini diduduki oleh Suku Dayak, tidak terlalu jauh, yakni sekitar 20 km. Karena itu, mobilitas antara dua tempat ini juga tidak terlalu sulit. Apalagi kondisi jalan juga sangat kondusif. Saat ini, mereka (Etnik Madura dan Etnik Dayak) sudah merajut kembali komunikasi yang terputus pada saat Perang Suku berkecamuk. Terajutnya kembali jalinan komunikasi ini tentu merupakan suatu titik awal yang baik dan diharapkan dapat memperbaiki hubungan yang selama ini terputus. Sebagai konsekuensinya, komunikasi yang baru terjalin ini memunculkan peran-peran yang diperlukan agar komunikasi dapat berjalan lancar. Peran-peran apa yang terdapat dalam komunikasi tersebut merupakan hal yang penting untuk diketahui guna membantu terjalinnya keharmonisan dalam hubungan kedua belah pihak.

Berlatarbelakangkan paparan kondisi tersebut, penulis melakukan sebuah penelitian untuk mencari jawaban tentang seperti apa peran-peran yang ada dalam komunikasi antaretnik Dayak dan Etnik Madura setelah konflik yang terjadi di antara mereka, yang hasilnya peneliti tuangkan dalam tulisan ini.

Untuk mengungkap peran-peran yang ada dalam komunikasi antara anggota Suku Dayak dan Suku Madura Pascaperang Suku, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tradisi penelitian fenomenologis. Hal ini karena salah satu karakter penelitian kualitatif fenomenologis adalah melakukan pengamatan dan berinteraksi dengan subyek penelitian untuk berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka atas dunianya. Studi dengan pendekatan fenomenologis berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala, termasuk di dalamnya konsep diri atau pandangan hidup mereka sendiri. Hal ini seperti dikatakan oleh Cresswell (1998:51) : “a phenomenological study describes the meaning of life experiences for several individuals about a concept or the phenomenon”. Selain itu, paradigma ini mengharuskan para peneliti untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedemikan rupa sehingga penulis mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari (Moleong, 1993:9). Ini berarti penelitian dengan pendekatan fenomenologi mengambil latar tempat dan waktu yang alamiah. Dengan semua ciri pendekatan fenomenologi tersebut, maka akan didapatkan data-data holistik tentang peran-peran dalam komunikasi Suku Dayak dan Suku Madura Pascaperang Suku.

Muhadjir menyebutkan ada enam model pendekatan dalam fenomenologi, yaitu : model interpretif Geertz, model grounded research, model ethnographik – ethnometodologik, model paradigma naturalistik, model interaksionisme simbolik, dan model konstruktivist (2000:119-188). Sementara Robert Bogdan dan Steven J. Taylor menyebutkan ada dua pendekatan utama dalam tradisi fenomenologis, yaitu interaksionisme simbolik dan etnometodologi[3].

Dari beberapa cabang tradisi fenomenologi tersebut, penulis menggunakan model interaksionisme simbolik. Model ini sesuai dengan fokus penelitian, karena proposisi paling mendasar dari interaksionisme simbolik adalah bahwa perilaku dan interaksi manusia itu dapat diperbedakan karena ditampilkan lewat simbol dan maknanya. Mencari makna di balik yang sensual adalah sesuatu yang penting dalam interaksionisme simbolik (Muhadjir, 2000:183).

Untuk mengumpulkan data tentang fenomena komunikasi antara Suku Dayak dan Suku Madura pascaperang suku ini digunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumentasi.

Peran – Peran Mendasar

Etnik Dayak dan Etnik Madura dalam komunikasinya menjalankan peran yang harus mereka mainkan. Peran adalah ekspektasi yang didefinisikan secara sosial yang dimainkan seseorang dalam suatu situasi untuk memberikan citra tertentu kepada khalayak yang hadir (Mulyana, 2004:109). Termasuk dalam berkomunikasi, baik Etnik Dayak dan Etnik Madura haruslah berperilaku bergantung pada peran sosialnya dalam situasi tertentu.

Pada penelitian ini, penulis akan membeberkan peran-peran yang disandang oleh Etnik Dayak dan Etnik Madura, serta pihak lain yang turut berperan dalam komunikasi mereka. Peran-peran ini penulis dapatkan dari hasil observasi.

Ada tiga peran mendasar dalam teori Goffman, setiap jenisnya berhubungan dengan tipe informasi yang berbeda. Tiga peran tersebut adalah performer, audience, dan outsider. Performer yakni aktor, yang berperan baik di panggung depan maupun panggung belakang. Mereka menyadari adanya kesan yang mereka kembangkan dan memiliki informasi mengenai pertunjukkan yang mereka tampilkan. Dalam komunikasi antara Etnik Dayak dan Etnik Madura ini yang menjadi performer adalah Etnik Dayak dan Etnik Madura itu sendiri. Ketika berkomunikasi mereka secara timbal balik menjadi performer. Saat Etnik Dayak menjadi performer, ia juga menjadi audience. Demikian pula sebaliknya dengan Etnik Madura. Saat berperan menjadi performer di depan Etnik Dayak, ia juga menjadi audience yang menonton performance Etnik Dayak. Saat menjadi performer mereka mengembangkan kesan dan informasi untuk menciptakan atau mengontrol persepsi pada lawan bicara. Sebaliknya, ketika menjadi audience mereka dapat melihat apa yang ditampilkan oleh lawan bicara mereka.

Selain terdapat performer dan audience, dalam komunikasi antaretnik Dayak dan Madura ini juga terdapat outsider. Outsider adalah mereka yang mengetahui rahasia pada aktor ataupun realitas yang mereka kembangkan. Siapakah outsider dalam komunikasi antaretnik ini ? Yang dapat dikatakan sebagai outsider adalah mereka yang bukan Etnik Dayak maupun Madura namun hidup bersama dengan Etnik Dayak atau Etnik Madura. Mereka adalah anggota etnik lain yang menikah dengan Etnik Dayak ataupun Etnik Madura. Etnik lain yang menikah dengan Etnik Dayak adalah Lina (etnik Melayu berusia 21 tahun), sedangkan yang menikah dengan etnik Madura adalah Saryah (etnik Melayu berusia 23 tahun).

Pihak lain yang juga dapat dikatakan sebagai outsider adalah para penjamin. Penjamin adalah Etnik Dayak yang memberikan jaminan kepada suku Madura bahwa mereka tidak akan dicelakai oleh Orang Dayak ketika berada di Kecamatan Monterado. Para penjamin ini adalah orang-orang yang membutuhkan tenaga kerja dari Etnik Madura. Salah satu diantara para penjamin tersebut adalah Inis, pemilik pertambangan batu.

Pihak lainnya yang dapat dikatakan sebagai outsider adalah etnik lain yang menyaksikan komunikasi etnik Dayak dan etnik Madura, namun mereka juga mengetahui perilaku komunikasi kedua etnik tersebut saat sedang tidak berhadapan dalam sebuah komunikasi atau ketika informan dari etnik Dayak dan Madura tersebut sedang berkomunikasi dengan etnik lain. Mereka adalah Mawar, Ela, Bu Ade, dan Hasan, yang intensif berkomunikasi dengan kedua etnik tersebut.

Peran-peran yang ada dalam komunikasi antaretnik Dayak dan Madura ini dapat dipecah lagi menjadi beberapa peran yaitu peran yang berhubungan dengan manipulasi informasi dan batasan kelompok, peran yang berhubungan dengan memfasilitasi interaksi antara dua tim, dan peran yang mencampur wilayah depan dan belakang.

sekian dulu ya, tentang konflik antaretnik dayak dan madura ini. ini hanya isi dari salah satu subbab yang ada dalam tesis saya di pascasarjana Unpad. jika ada yang membutuhkan informasi lebih jauh berkenaan dengan tulisan ini, dengan senang hati akan saya layani. terimakasih.