IBSN: Tes Diri Mengenai Hubungan yang Banyak Menuntut

Manusia adalah makhluk sosial. Tak dapat menjadi menusia seutuhnya tanpa kehadiran orang lain. Namun, ada kalanya kita menemui orang-orang yang berhubungan dengannya membuat tenaga, atau yang paling sering, pikiran kita terkuras. hubungan seperti ini oleh Les Parrott dinamai dengan high maintenance relationship, atau hubungan yang banyak menuntut.

Berikut ini saya sajikan tes diri mengenai hubungan yang banyak menuntut, yang langsung saya kutip dari buku Les yang berjudul “High Maintenance Relationship (2000:5-7)”

Dengan menjawab semua pertanyaan di bawah ini, Anda dapat menilai apakah Anda berada dalam hubungan yang banyak menuntut atau tidak. jawablah setiap bagian dengan cermat dan jujur. Jawab dengan “Ya” atau “Tidak”

  • Apakah Anda merasa gelisah terutama bila ada orang yang menelepon dan meninggalkan pesan agar Anda membalas teleponnya?
  • Apakah Anda berhubungan dengan orang yang bila membayangkan bertemu dengannya membuat semangat anda menurun.
  • Apakah Anda memiliki hubungan dimana anda lebih banyak memberi daripada menerima?
  • Apakah anda mendapati diri anda akhirnya mengkritik tindakan anda sendiri akibat dari interaksi dengan seseorang?
  • Apakah Anda menjadi lebih sering mengkritik diri sendiri di depan seseorang ini?
  • Apakah kreativitas anda terhambat atau kejernihan pikiran anda agak terganggu oleh perasaan tidak senang yang terus-menerus anda rasakan karena harus berurusan dengan seseorang ini?
  • pernahkah anda mengalami percakapan khayalan dengan orang ini atau perbantahan dalam pikiran anda sendiri di mana anda membela diri sendiri atau mencoba menjelaskan posisi anda?
  • apakah anda merasa jengkel karena orang ini tampaknya memperlakukan orang lain lebih baik daripada anda?
  • apakah anda bertanya-tanya mengapa orang ini lebih suka mengkritik anda, tetapi jarang mengakui hal-hal yang anda kerjakan dengan baik?
  • pernahkah anda berpikir untuk keluar dari pekerjaan/organisasi/kelompok karena harus berinteraksi dengan seseorang ini?
  • apakah anda berputus asa karena orang ini terus-menerus menguras tenaga anda meskipun anda berusaha memperbaiki hubugan anda?

Nilai: Jumlahkan jawaban “Ya” Anda, jika jawaban “Ya” anda lebih banyak dari “Tidak”, maka Anda berada dalam hubungan yang banyak menuntut.

Ada beberapa tipe orang yang dapat membuat Anda berada dalam hubungan yang menguras energi yaitu :

  • pengkritik – selalu mengeluh dan memberi nasehat yang tidak diharapkan
  • martir – selalu menjadi korban dan menderita karena mengasihani diri sendiri
  • perusak kegembiraan –  pesimis dan merasa egatif dengan sendirinya
  • pengganggu –  sama sekali tidak peka terhadap orang lain
  • penggosip – menyebarkan gosip dan membocorkan rahasia
  • pengendali – tidak dapat memberi kebebasan dan berhenti mengkhawatirkan
  • musuh dalam selimut – benar-benar bermuka dua
  • si cuek – menjauh dan meghindari kontak
  • pendengki – penuh dengan kedengkian
  • gunung berapi -menghasilkan uap dan siap meledak
  • bunga karang – selalu membutuhkan, tetapi tidak pernah membalas
  • pesaing – mengingat setiap rincian
  • pekerja keras – selalu mendesak dan tidak pernah merasa puas
  • si penggoda – sindiran yang melecehkan
  • si bunglon – sangat ingin menyenangkan orang lain dan menghindari konflik

Setiap tipe memiliki cara penanganan yang berbeda. mudah-mudah-mudahan lain waktu akan saya tuliskan….

IBSN : Aku Bukan Siapa-Siapa…

Saat bercermin di kaca, sambil mengagumi bagian wajah tertentu yang menarik dan biasanya dipuji orang, atau sambil menutupi “bopeng-bopeng” yang agak kurang enak untuk dilihat orang, saya sering bertanya dalam hati “siapa aku?”. Dalam ranah komunikasi, ini termasuk ke dalam yang namanya komunikasi intrapersonal. Komunikator dan komunikate ada dalam diri saya sendiri. A dan B, saling bertanya jawab dalam pikiran.

Sambil senyum-senyum hati saya kadang menjawab : hmmm, saya seorang dosen, kelebihan saya ini, ini, ini….prestasi saya anu, anu, anu….dst yang membuat saya bangga pada diri sendiri.

Tapi terkadang, hati saya menjawab : hhhhh,  saya hanyalah seorang yang punya banyak kekurangan, saya kurang ini di bandingkan dengan si X, saya kurang itu dibandingkan dengan si Z….dst yang membuat saya merasa rendah diri.

Tapi alhamdulillah, otak saya juga tidak jarang menggabungkan berbagai kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diri, sehingga membentuk diri saya yang utuh. Utuh dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Para pembaca yang budiman, sebenarnya tulisan ini saya maksudkan untuk menghaturkan terimakasih kepada berbagai pihak yang selama ini berjasa dalam kehidupan saya. Mungkin, selama ini saya belum mengucapkan terimakasih, padahal rasa terimakasih adalah sesuatu yang wajib diungkapkan. Mudah-mudahan beberapa dari nama yang saya sebut, jika suatu saat googling dan mencari namanya, atau ada orang lain yang googling mencari namanya akan menemukan bahwa nama tersebut pernah berjasa terhadap seseorang yang bernama Ira Mirawati.

Saya saat ini bukan siapa-siapa. Tapi tanpa mereka, saya akan lebih menjadi bukan siapa-siapa.

Mungkin, kalimat-kalimat selanjutnya dari postingan ini mirip dengan ucapan terimakasih yang ada dalam sebuah skripsi. Tapi, bila dalam skripsi ditulis berdasarkan urutan yang paling berjasa, kalau di sini tidak. Semuanya sangat berjasa….

Tapi, jangan heran kalau tidak menemukan saya menyebutkan nama orang tua, suami, anak, mertua, dan kerabat yang lain, karena nama mereka tidak akan pernah lepas dari kehidupan saya….kalau saya tuliskan terimakasih pada mereka, halaman blog ini tidak akan mampu memuat…mungkin kalimat itu hiperbola, tapi demikianlah adanya…

Ya Allah, Sang Pemberi kehidupanku, terimakasih atas segala kebaikan yang Engkau anugerahkan padaku. Ku mohon, berikanlah limpahan kebaikan kepada orang-orang yang tanpa pamrih telah memberikan kebaikan pada hamba-Mu ini….

  • Semua guru dari SD sampai SMU dan dosen yang telah mendidik dan membagi ilmunya pada saya.
  • Bapak Adijanto, yang telah membiayai SMU Saya hingga saya bisa bersekolah gratis.
  • PT Pos dan Giro, Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang telah memberikan beasiswa ketika saya SMP
  • DD Bandung yang memberikan beasiswa ketika saya S1
  • Ford Foundation dan The Indonesian International Education Foundation yang telah menanggung seluruh biaya S2 dan tesis saya.
  • Dosen-dosen di Jurusan Manajemen Komunikasi yang telah menerima saya dengan tangan terbuka: Ibu Jenny Ratna Suminar, Pak Antar Venus, Pak Uud Wahyudin, Pak Hadi S. Arifin, Pak Atwar Bajari, Pak Slamet Mulyana, Pak Teddy Kurnia, Bu Purwanti Hadisiwi, Bu Kismiyati El Karimah, Pak Dadang Sugiana, Pak Engkus Kuswarno, Pak Asep Suryana, Pak Pramono Benyamin, Pak Agus Setiaman, Bu Weny Widyowati, Bu Sri Rahayu, Pak Hidayat Satari, Bu Eni Maryani, Pak Roy Robert, Pak Rakhman, Pak Duddy, Pak Akbar, Pak Hussein, Pak Ilham, Pak Kunto, Bu Nindi, Bu Emma, Bu Funny,
  • Dekan Fikom Unpad Prof H. Deddy Mulyana, Phd, dan seluruh anggota penguji seleksi CPNS Fakultas yang telah mempercayai saya untuk menjadi tenaga pengajar di Fikom Unpad tercinta.
  • sahabat-sahabat setia, yang sudah mau berbagi dengan orang seperti saya,sahabat pas saya SMP: Ernawati , Sahabat pas saya s1: Yati Suryati (dan keluarga yang sudah menjadikan aku seperti keluarga sendiri), Istikharah (yang bahkan sampe rela nyuapin aku kalo lagi gak selera makan hehe), juga sahabat-sahabat s2: Serly, Yopi, BU Eha, Uliviana, Yanti.
  • teman-teman blogger IBSN (Indonesian Beautiful Sharing Network) yang selalu menyemangati untuk saling berbagi.

to be continued…

masih banyak nama-nama lain yang berjasa…

Note :

Untuk semua teman blogger, ungkapkanlah terimakasih Anda pada pihak-pihak yang berjasa dalam kehidupan Anda. boleh secara lisan maupun tulisan. Ungkapan terimakasih akan membawa energi positif untuk orang yang menerima juga yang memberi….

IBSN: Uji Kredibilitas dari Allah

Pernah mendengar kata kredibilitas ?

Kredibilitas adalah hal yang sangat penting bagi seorang komunikator. Ia merujuk pada bagaimana pandangan khalayak/audience/pendengar terhadap seorang pembicara. Seseorang yang ingin menjadi seorang pembicara, dalam bentuk komunikasi apapun, harus memiliki kredibilitas tinggi agar apa yang dia sampaikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

Kredibilitas bersifat subyektif, dalam artian bahwa pandangan setiap pendengar tentang seorang pembicara akan berbeda satu sama lain. Misalnya, kredibilitas saya di mata mahasiswa semester I mungkin akan lebih tinggi dibandingkan dengan kredibilitas saya di depan mahasiswa semester VII (yang sudah makan asam garam perkuliahan lebih lama).

Ada dua komponen kredibilitas, yaitu trustworthiness (kepercayaan) dan expertise (keahlian). Keahlian akan didapat melalui pendidikan, pengalaman, dll yang dapat meningkatkan keahlian kita.

Lantas, kalau kepercayaan datangnya dari mana ???

Salah satu hal yang dapat meningkatkan kepercayaan adalah ketika mengaplikasikan atau mengamalkan apa yang kita bicarakan. Atau dalam bahasa keren biasanya kita sebut “nggak omdo (omong doang)”. Orang yang hanya berbicara namun tidak pernah mengamalkan apa yang ia ucapkan biasa kita sebut juga dengan “NATO alias no action talk only”. Orang seperti ini tentu memiliki tingkat trustworthiness yang rendah.

Bila dalam meningkatkan keahlian sebagian besar faktor penentu ada pada manusia, ternyata dalam trustworthiness penentunya bukan hanya manusia. Percaya atau tidak, dalam sisi ini Allah turun tangan langsung untuk menguji trustworthiness seseorang.

Bagaimana bentuknya ???

Ternyata, bila kita mengucapkan sesuatu, Allah akan menurunkan kasus atau mungkin kesempatan bagi kita untuk mengamalkan apa yang sudah kita ucapkan (Mario Teguh dalam Acara The Golden Way di MetroTV, 11 Jan 09, menyebutnya dengan “Allah selalu ingin memurnikan ucapan hamba-hamba-Nya).

Misalnya, saya pernah menyampaikan pada mahasiswa “Coba ya Kalian Mahasiswa, kalau di Bis dahulukan orang yang lebih tua”. Dan…. tak lama berselang saya diuji oleh Allah. Pulang mengajar saya naik bis mau ke Bandung. badan lelah, mata ngantuk, perut lapar. hmmm…sepertinya enak tidur di bis. Ketika memasuki pintu tol, seorang nenek bersama cucunya naik ke bis yang saya tumpangi dan celingukan mencari tempat duduk. Saya bingung, mau memilih tetap tidur atau mempersilakan si Nenek duduk di kursi saya. Alhamdulillah saya ingat kata2 yang pernah saya ucapkan ke mahasiswa. rasanya malu hati kalau tidak mengamalkan apa yang saya ucapkan.

Contoh lainnya, Aa Gym sering berceramah tentang bagaimana sebaiknya seorang atasan menegur bawahannya. Percaya tidak, bahwa Allah sering menguji Aa Gym tentang hal tersebut??? Tapi dalam kesempatan ini saya tidak akan menguraikan panjang lebar pengamatan saya tentang bagaimana pengamalan Aa mengenai apa yang beliau sampaikan pada Jamaah.

Terakhir, Ujian Allah yang sangat nyata adalah ; kita sering mengaku bahwa kita termasuk ke dalam golongan orang-orang muslim. Coba kita pikir, jangan-jangan apa yang terjadi di Gaza adalah ujian Allah untuk mengetahui sejauh mana solidaritas kita sebagai muslim. apakah kita benar-benar termasuk ke dalam golongan kaum muslimin seperti yang selama ini kita ucapkan. Anda bisa melihatkan bagaimana reaksi berbagai negara menyikapi konflik Gaza, khususnya negara-negara yang mengaku sebagai negara Islam. Ada yang menyikapi dengan keras, ada yang mengirimkan bantuan, tapi ada pula yang tak bereaksi apapun.

Maka (seperti apa yang saya tulis dalam comment di Silmikafa’s Weblog), bersedihlah kita bila apa yang terjadi di Palestina tidak membuat kita menangis. tidak membuat hati kita teriris. dan tidak membuat kita merasa bahwa penderitaan penduduk Gaza adalah penderitaan kita. Karena jangan-jangan kita bukan termasuk ke dalam golongan kaum muslimin.

Btw, Anda pernah mengalami Ujian kepercayaan serupa???

Mencontek dan Korupsi; serupa dan sewajah

Anda yang sudah membaca posting saya dengan judul senada sebelumnya, ini lanjutannya…

Menurut pemikiran saya berdasarkan observasi perilaku mencontek tersebut, ternyata mencontek dan korupsi punya banyak kemiripan, mulai dari definisi hingga cara memberantasnya.

Dilihat dari sisi definisi, ternyata mencontek dan korupsi itu sebelas dua belas, coba simak ini :

Korupsi menurut Transparancy International didefinisikan sebagai “Perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya,dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka” (www.pukatkorupsi.org)

Definisi mencontek pun tak jauh berbeda, mencontek adalah perilaku seorang murid, baik siswa maupun mahasiswa, yang secara tidak wajar dan tidak legal berusaha mempertinggi nilai ujian sendiri atau mempertinggi nilai ujian mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kepercayaan guru/dosen terhadap kemampuan mahasiswa tersebut. Definisi mencontek ini tentunya datang dari diri saya sendiri hehe, bukan dari pakar manapun. Akan tetapi, coba kita simak baik-baik. Kita harus mengakui bahwa itu benar adanya! Tul tidak???

Dalam hubungannya dengan gender :

Selama ini kita mengetahui bahwa korupsi lebih banyak dilakukan oleh lelaki. Mungkin ini sebenarya bukan hanya karena politisi lebih banyak lelaki dan minim wanita, namun juga karena korupsi membutuhkan kerjasama dengan pihak lain. Wanita berdasarkan observasi mencontek ini, agak sulit untuk bersama-sama melakukan kecurangan bersama orang lain. Wanita senang memiliki atau menyimpan sebuah rahasia, karenanya kurang bisa berbuat curang bila  ada orang lain yang tahu. Sementara korupsi tidak bisa dilakukan tanpa orang lain tidak tahu. Padahal, sebuah perilaku korupsi minimal melibatkan dua orang, misalnya orang yang menyelewengkan dana dengan orang yang memberi dana, orang yang menyelewengkan dana dengan orang kepercayaannya, orang yang diberi dana dengan toko yang me-mark up kwitansi, dsb.

Dalam hal penanganan, mencontek juga membutuhkan terapi yang serupa dengan mencontek.

Penanganan mencontek membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Dosen tidak bisa bekerja sendiri hanya berpatokan pada norma-norma sosial, melainkan membutuhkan pijakan legal atau pijakan hukum yang dapat mengokohkan tindakannya memberantas perilaku contek mencontek. Setahun terakhir, kampus kami memberlakukan sistem pengawasan ujian yang ketat didukung oleh peraturan yang mengikat. Misalnya : mahasiswa yang ketahuan mencontek dan bekerjasama dianggap tidak mengikuti UAS (namanya dicoret dari daftar peserta UAS) . Hasilnya sungguh luar biasa, sekarang pengawas menemukan adanya pengurangan signifikan perilaku mencontek. Selain itu, kampus juga membuat peraturan bagi pengawas yakni pengawas harus tegas, jika tidak akan mendapat peringatan. Dahulu, pengawas biasanya suka kasihan melihat mahasiswa, tidak tega, hingga akhirnya membiarkan mahasiswa mencontek. ternyata ini tidak baik, karena ternyata mencontek itu timbul bukan hanya karena ada niat tapi karena ada kesempatan, WASPADALAH WASPADALAH!!! hehe.

Seperti halnya mencontek, penanganan korupsi juga membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari KPK, polisi, para abdi adhiyaksa (hakim, jaksa), sampai Presiden. Kebayang kan, kalau kemaren presiden Indonesia lembek dan meminta mertuanya dibebaskan, pasti pemberantasan korupsi tidak akan maksimal.

Terakhir, kita jangan terjebak untuk memasukkan kedua perilaku salah ini sebagai suatu budaya. Yang sudah mendarah daging. Yang tidak bisa dihilangkan. DUA HAL INI BISA DIHILANGKAN DARI DALAM DIRI KITA…caranya pun sama yakni PERCAYA…

Untuk Korupsi : Percayalah bahwa kerja keras tanpa korupsi akan tetap memberikan rizki yang cukup untuk kita.

Untuk mencontek : Percayalah bahwa optimalisasi  kemampuan Anda pribadi secara optimal akan memberikan nilai terbaik bagi kita.

Yang tidak sama cuma satu, ada hari anti korupsi sedunia tapi tidak ada hari anti mencontek sedunia hehe.

Sudah dulu ya, punten kalo tulisannya masih acak-acakan, keburu sore. Pulang dulu, kangen sama anak…

Perilaku Mencontek, Gender, dan Korupsi

Sudah empat tahun saya langganan menjadi pengawas Ujian Akhir Semester di Fakultas tempat saya mengajar. Dalam satu minggu saya mengawas selama 5 hari, per hari sebanyak  empat kelas. Jika dijumlahkan total kelas ujian yang saya awas adalah 160 kelas. Ini belum termasuk Ujian Tengah Semester yang tidak terjadwal secara resmi.

Pengalaman mengawas ujian memberi saya pengetahuan yang luar biasa tentang perilaku mencontek yang dilakukan mahasiswa. Dari posisi saya berdiri saya dapat mengobservasi mahasiswa, semua gerak-gerik mahasiswa dapat terpantau dengan jelas, mulai dari yang geleng-geleng kepala, melirik kiri kanan, menggerak-gerakkan kaki, sampai mengupil, termasuk juga perilaku mencontek mereka. memang observasi ini dilakukan tanpa rencana observasi yang tertulis, karena awalnya tidak sengaja. Namun ternyata, dari observasi ini saya menemukan pola-pola tertentu yang dilakukan mahasiswa dalam hal mencontek.

Dalam observasi ini, ada tiga jenis kecurangan yang dilakukan saat ujian, yakni mencontek, bekerja sama dengan peserta ujian lain, dan mencontek jawaban teman tanpa sepengetahuannya. Mencontek dilakukan dengan membuat catatan-catatan kecil atau bahkan dapat dikatakan “superkecil” dalam berbagai media, yakni (1)  kertas yang dilipat-lipat kecil dan diselipkan di saku, tempat pensil, atau kaus kaki, kertas tissue, dan saputangan, (2) sarana umum, seperti kursi, meja, dan dinding di samping tempat ia duduk, dan (3) bagian tubuh, seperti telapak tangan, lengan yang tertutup lengan baju, kaki, dan paha (bagi mereka yang menggunakan rok). sementara, bekerja sama dengan peserta lain dilakukan dengan menanyakan jawaban secara berbisik, berkirim pesan lewat kertas yang diselipkan di tip-x, atau bertukar soal yang sudah berisi jawaban singkat.

Mencontek dan Gender
di luar prediksi saya, ternyata perilaku mencontek laki-laki dan perempuan berbeda. mencontek dengan membuat catatan-catatan kecil umumnya dilakukan oleh wanita. dari sekitar 30 kasus mencontek yang saya temukan saya hanya menemukan 5 orang laki-laki yang mencontek dengan membuat catatan kecil, dia menulis contekannya di kursi dan dinding, selebihnya pelaku pencontek dengan menggunakan kertas kecil dilakukan oleh mahasiswi. ini tidak terlepas dari sifat wanita yang sangat telaten dalam membuat catatan dan pandai menyimpan rahasia. para wanita sangat kreatif membuat catatan, bahkan hingga menulis contekan di bagian tubuh mereka yang tertutup.

sebaliknya, dari sekitar  40 kasus kerjasama yang saya temukan, 30 di antaranya adalah laki-laki. bila mereka tidak tahu jawabannnya mereka tidak segan-segan mencari jawaban dengan bertanya kepada orang-orang yang duduk di dekatnya.

masih ada temuan menarik lainnya tentang mencontek, akan saya lanjutkan kemudian…

btw, Anda pernah mencontek?

Jiwa Enterpreneurship: Perlu

Beberapa hari yang lalu, saya posting tentang bagaimana bahagianya saya menjadi CPNS (dan saya memang benar-benar bahagia). Meski harus menunggu 4 tahun untuk meraihnya, namun saya termasuk orang yang beruntung bisa lolos tes yang selalu diminati oleh ribuan warga Indonesia ini.

Banyak warga Indonesia saat ini, bahkan yang sudah sarjana bahkan dengan IPK tinggi sekalipun yang masih kesulitan mencari pekerjaan.

Yap, itu prolog dari sharing saya kali ini yang berjudul “Jiwa Enterpreneurship: Perlu

Kesulitan mencari pekerjaan salah satunya disebabkan orang-orang hanya berfokus pada keinginan untuk menjadi pegawai, baik itu pegawai negeri maupun swasta. Padahal, jika kita cermat sebenarnya banyak peluang bagi kita untuk mendapatkan bahkan menciptakan kesempatan kerja apalagi bagi mereka yang berkecimpung di dunia komunikasi.

Demikian seperti yang diungkapkan oleh Aqua Dwipayana, seorang trainer dan konsultan komunikasi, pada acara studium generale “Enterpreneurship” tanggal 4 Desember 2008 di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Studium generale enterpreneurship ini digagas oleh Dekan Fikom Unpad, Prof. H. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D, dalam rangka memberikan perspektif yang lebih luas kepada mahasiswa Fikom dalam memasuki dunia kerja.

Di bidang jasa komunikasi banyak sekali bidang usaha atau bidang kerja yang sebenarnya bisa digarap. Mulai dari mendirikan lembaga marketing communication consultant, advertising agency, hingga menjadi konsultan (trainer) untuk komunikasi di organisasi. Dan yang membahagiakan, hampir semua bidang-bidang usaha ini dapat dimulai tanpa modal uang. Namun yang perlu diperhatikan, untuk memulainya kita harus mempunyai tekad yang kuat, tahan malu, serta skill yang mumpuni di bidang-bidang yang akan kita geluti ini.

Skill yang mumpuni ini, tentu tidak datang dengan sendirinya. mahasiswa harus mulai membekali dirinya dengan kemampuan aplikasi komunikasi sejak mereka duduk di bangku kuliah. Maka Aqua sangat menyarankan mahasiswa untuk aktif di organisasi-organisasi dan mengaplikasikan ilmu komunikasinya, bahkan mahasiswa juga sangat dianjurkan untuk magang di berbagai perusahaan. Tujuan magang ini bukan untuk mencari penghasilan, melainkan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan skill yang kelak akan mempertinggi nilai kita ketika telah lulus. Pada kesempatan itu, Aqua juga memberikan beberapa tips yang dapat memotivasi mahasiswa untuk memulai usaha.

Kuliah umum ini sangat menarik, karena disampaikan secara atraktif dan motivatif. Apalagi, contoh-contoh yang diberikan Aqua terasa sangat nyata, karena berdasarkan pengalaman pribadinya mendirikan sebuah lembaga konsultan komunikasi yang bernama Image Communication.

Akhirnya….lulus

Tak banyak yang ingin saya ucapkan, hanya segunung syukur atas karunia Allah…
yang telah meluluskan saya jadi CPNS Unpad, artinya setelah 4 tahun menunggu akhirnya status saya akan berubah dari dosen honorer menjadi dosen tetap….
terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan mendoakan saya, mungkin do’a Anda yang membuat ujian CPNS kali ini berjalan lancar.
tak lupa, saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua dosen jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad, yang selama ini telah menerima saya dengan tangan terbuka, membimbing, dan mengajari saya tentang banyak hal, baik akademik maupun nonakademik. Tak pernah terpikir untuk pergi ke tempat lain selain jurusan ini…..Akhirnya Saya Akan Bergabung secara Resmi bersama Bapak dan Ibu ^_^