Kritik Iklan

“Advertising is an evil service” adalah sebuah ungkapan yang dilontarkan oleh A. Bevan dalam bukunya “The Want Makers; Inside The World of Advertising” (1988). Periklanan dianggap sebagai servis iblis karena selalu berusaha merayu publik agar menjadi konsumeristik, dan semua itu demi keuntungan sang pengiklan.

Bergayung sambut dengan Bevan, dalaam buku yang sama Malcolm Muggeride pun berkata hal yang serupa “History will see advertising as one of the real evil things of our time. It is stimulating people constantly to want things. Want this, want that.”

Komunikasi periklanan adalah suatu sarana informasi dari produsen kepada konsumen. Periklanan digunakan sebagai salah satu kekuatan untuk mencapai tujuan pemasaran barang atau jasa, baik tujuan jangka panjang ataupun tujuan jangka pendek. Iklan bertujuan untuk memperkenalkan suatu produk atau meningkatkan kesadaran akan merk (brand awareness), citra merk (brand images), citra perusahaan (corporate image), membujuk khalayak untuk membeli produk yang ditawarkan, memberikan informasi, dan lain-lain. Pada dasarnya setiap iklan dimaksudkan untuk menghasilkan suatu tanggapan baik dari khalayak, yang diharapkan pada suatu ketika akan terdorong ke arah tindakan pembelian, sehingga sudah seyogyanya iklan diolah sedemikian rupa agar mampu menarik simpati penerima

Iklan adalah salah satu seni persuasi, yang membujuk khalayak agar membeli produk yang diiklankan. Tak berhenti sampai di sana, iklan membantu menciptakan merk, sehingga orang kemudian memilih produk tersebut, dan bukan yang lainnya.

Sejarah Iklan

Kegiatan periklanan sudah dikenal sejak jaman Yunani dan Romawi Kuno. Iklan mendapatkan popularitasnya sejak system kapitalis merebak pada abad ke-18. Cara produksi kapitalis sebagai basis dari pertumbuhan pasar komoditi, secara tidak langsung menempatkan iklan sebagai kapten industri yang harus menjamin lancarnya distribusi komoditi kepada masyarakat luas. Pada saat itu, iklan betul-betul ditujukan untuk mnciptakan konsumen secara serius. Strategi periklanan yang dikembangkan adalah take it or leave it. Iklan tampil begitu gambling dan umumnya membawa pesan tentang produk, mulai dari harga hingga tempat di mana konsumen bisa mendapatkan produk tersebut.

Ketika sistem kapitalisme sudah beranjak dewasa, fokus industri tidak lagi terpaku pada proses produksi komoditi, tetapi bergeser lebih jauh lagi pada bidang konsumsi. Di sini, konsumen tidak lagi diperbolehkan untuk menentukan sendiri apakah ia mau melakukan konsumsi, apa saja yang dikonsumsi, atau berapa banyak ia melakukan konsumsi. Semua diatur dan dikontrol oleh industry kapitalis, dengan iklan sebagai senjatanya. Tidak heran jika iklan semakin memainkan peran yang penting dalam industri barang dan jasa. Iklan tidak lagi sebagai kapten industry, tetapi berubah menjadi captain of consciousness melalui penciptaan makna, citra, dan fantasi akan produk (Stuart Ewen dalam Ratna, Cakram Edisi Mei 2002). Melalui citra-citra itu, iklan diharapkan mampu mengubah perilaku, menciptakan permintaan dan juga membujuk orang agar berpartisipasi di dalam kegiatan konsumsi.

Pandangan tentang Iklan

Banyak argument yang dikemukakan oleh para pemerhati media, perlindungan konsumen dan para akademisi mengenai efek negative iklan yang bersifat jangka panjang. argument itu adalah bahwa iklan membawa degradasi terhadap sistem nilai yang berlaku dimasyarakat dengan mempromosikan gaya hidup hedonistik dan materialistik, belum lagi jika di dalamnya ada unur-unsur kekerasan dan porografi. Iklan membawa kita untuk membeli lebih banyak cd dan kaset, juga lebih banyak junk food yang sebenarnya tidak esensial untuk kebutuhan kita saat itu.

Benarkah apa yang diungkapkan Bevan dan Muggeride tersebut ?

Sekarang kita lihat kondisi di Negara kita, Indonesia. Keadaan iklan dan periklanan dewasa ini sudah sangat berbeda dari awal mulanya. Perkembangan masyarakat dan kegagalan masyarakat mengendalikan perkembangan dirinya – di luar masalah iklan – jelas berdampak kian rumitnya permasalahan iklan. Ini belum lagi jika secara timbal balik melihat iklan sebagai penambah masalah social.

Secara umum, mungkin pihak-pihak yang memperhatikan iklan dan pengaruhnya terhadap masyarakat, akan setuju terhadap pernyataan Bevan dan Muggeride. Bagaimana tidak, saat ini, pembuat iklan dalam merancang strategi kreatif dan eksekusinya pada umumnya hanya berpatok pada satu acuan, mencapai penjualan yang sebesar-besarnya. Akibatnya, iklan-iklan yang beredar rata-rata adalah iklan yang bersifat hard selling, langsung menarik target market untuk melakukan perilaku konsumsi terhadap produk yang diiklankan.

Sebenarnya, dengan tingginya frekuensi repetisi iklan dan kemampuannya membujuk masyarakat, kita dapat memperbaiki anggapan-anggapan tentang pengaruh jelek iklan. Atau paling tidak, kita dapat mengimbangi berbagai kritikan pedas terhadap iklan dengan mengoptimalkan segi positif yang dapat dilakukan oleh sebuah iklan.

Solusi dari tulisan ini akan saya lanjutkan di tulisan berikutnya. Terimakasih.

6 Responses

  1. Tulisan yang menggelitik, ayo Ira bikin penelitian untuk buktikan kritikan di tulisan itu. Sapa tahu dapat sponsor!
    Keep bloging continue for our community! Good luck!

  2. bu, mohon ijin saya link blognya di blog saya

  3. oke rum4hkita. nanti saya juga link kamu. seperti kata Pak Atwar “keep blogging”

  4. Ass. Wr. Wbr.
    Bu Ira, saya juga mohon izin untuk link blognya di blog saya. Sama-sama penyuka periklanan, he…

  5. Hmmm …
    Ini tulisan menarik …
    Dari Blogger yang menggeluti masalah komunikasi …

    Makasih ya Ibu …

  6. Makasi ya pak….
    sudah mau berkunjung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: